Majelis Masyarakat Maiyah Malam ini dibuka dengan Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an, Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an, selanjutnya sholawatan untuk menghadirkan kanjeng Nabi Muhammad SAW sehingga acara malam ini menjadi lebih berkah. Amin.

Alhamdulillah Waro' Kaprawiran edisi bulan ini dihadiri dulur-dulur maiyah dari alas donoloyo purwantoro dan sekitarnya, Acara malam ini bertepatan dengan ulang tahun Komunitas Maiyah Ponorogo, Gamelan Kiai Iket Udheng, Mahibba (Maiyah Ahibba) dan Malik (Maiyah Cilik), Mas Koko meminta do'a kepada seluruh jamaah yang hadir, semoga dapat terus berkarya, istiqomah. Amin

Mas Koko kemudian bercerita tentang sejarah Komunitas Maiyah Ponorogo yang pertama kali berkumpul bertempat di Masjid Tegalsari, dilanjutkan bercerita awal Gamelan Kiai Iket Udheng, Mahibba (Maiyah Ahibba) dan Malik (Maiyah Cilik). semoga selalu dijaga manfaatnya, istiqomahnya dan semakin kuat pasedulurannya. Amin


Baca selengkapnya


Acara Majelis Masyarakat Maiyah Waro' Kaprawiran edisi Oktober bertempat di Waterpark Kintamani Ponorogo dibuka dengan nderes Surat An-Nisa'. Setelah nderes Al-Qur'an dilanjut dengan Sholawatan bersama untuk menyapa dan menghadirkan Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W sebagai Gondelan kita dalam hidup ini dan yang kita harapkan Syafaatnya nanti di hari Kiamat. Amin

Sebelum memasuki sesi jagongan tentang tema malam itu yaitu SANT[RI], seluruh Jamaah yang di pimpin ibu-ibu Mahibba (Maiyah Ahibba) dengan diiringi Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) membawakan Wirid Wabal dengan hikmat dan khusu’, di zaman yang tidak menentu seperti sekarang ini, semoga yang baik akan mendapatkan balasan kebaikan begitu pula sebaliknya. Amin


Baca selengkapnya


Waro' Kaprawiran bersama Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) Sinau Bareng Kemerdekaan Republik Indonesia dengan Masyarakat Desa Bulu Lor, Jambon, Ponorogo. Tidak seperti biasa, lokasinya berada di atas Air Terjun Midodaren atau yang masyarakat sebut Kayangan, yang jika ditempuh jalan kaki sekitar 30 menit dengan jalan yang terus menanjak. 


Baca selengkapnya


‪Mas Ady dan mas Koko Silaturahmi kepada Kyai Ali Rohmat pengasuh Pondok Pesantren Subulun Najah sebelum acara rutinan WK dimulai.  dilanjutkan dengan Kegiatan WK bersama santri sebelum Sinau Bareng dengan para Kyai Ponpes Subulun Najah. salah satu narasumber malam itu Gus Hafid bersama Gamelan Kiai Iket Udheng membawakan Pujian "Pagere Jagat" karya Mbah Yai Harjo Besari saking Pondok Tegalrejo. selain Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) malam itu Maiyah Cilik (MALIK) malam ini ikut meshodaqohkan kepiyawaiannya membawakan "Sepohon Kayu". Mbah Yai Pondok Pesantren Subulun Najah memimpin do'a menambah berkahnya acara WK malam ini. Salah satu jamaah mempunyai harapan, semoga dengan adanya Waro' Kaprawiran, bisa menjadikan kita lebih mempererat silaturahmi. (GAB)


Setelah Tarawih Acara dibuka Mas Najih Selaku moderator dengan mengajak bersama-sama membaca Surat Al-Fatihah yang utama ditujukan kepada kanjeng Nabi Muhammad S.A.W, kedua kepada semua dulur yang hadir mau yang tidak bisa hadir dan yang ketiga ditujukan kepada Almarhum Bapak dari istri Pak Arif vokalis KIU yang baru saja berpulang. Tidak hanya hidiyah Al-Fatihah, setelah membuka acara moderator mengajak jamaah yang hadir untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat Ghoib yang di Imami oleh Pak Anang kemudian dilanjut Tahlilan.    

Selesai Tahlilan Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) membuka dengan nomor Pambuko dan Kenduri Sholawat, kemudian moderator mempersilahkan para narasumber naik ke panggung, narasumbur malam itu Pak Anang, Pak Koko, Pak Ady, Mas Hamid dan Mas Sofyan. Mas Najih mulai masuk tema mokal mokel malam ini, “mokal” pada idiom “mokal mokel” setidaknya mengandung dua arti yang saling berlawanan. Arti yang pertama terkait idiom “mokal mokel” dapat diartikan sebagai pengulangan aktivitas mokel secara terus-menerus. Kasus serupa terjadi pada kata “gonta ganti”, mompar mampir”, “ndelak ndelok” dst. Idiom ini merepresentasikan manusia yang sering melakukan “mokel” secara terus-menerus. Adapun arti kata “mokal” pada istilah “mokal mokel” juga bisa diarti sebagai kata mustahil atau tidak mungking (red: mukhal). Artinya, selain berarti melakukan aktivitas mokel secara terus menerus, idiom “mokal mokel” juga bisa diartikan mustahil melakukan mokel. Dua arti yang saling berlawanan meskipun berasal dari satu istilah yang sama.


Baca selengkapnya


Kembali pulang, satu kata untuk WK malam hari ini. Setelah bulan bulan sebelumnya melingkar di ponorogo, magetan dan ngawi. Mei ini giliran madiun. Agak berbeda dengan sebelumnya, malam ini WK dibuka dengan nderes dan wirid dilanjutkan sholawatan.

Memaknai ujian dalam rana kehidupan, diri sendiri dan dalam lingkungan, bahwa ujian itu sendiri adalah tahap tahap yang dilakukan manusia untuk menemukan makna diri. Menjaga keseimbangan diri. Manusia akan mengalami tahap tahap peningkatan mutu diri di dalam lingkungan dan kehidupannya dengan cara memaknai ujian itu sendiri. Akan tetapi ada penemuan dimana manusia akan melakukan tahap percepatan dalam memaknai ujian ujiannya. Sebisa mungkin kita sebagai manusia memaknai ujian untuk mencapai pencapaian yang penuh dengan jutaan cahaya tidak dengan kegelapan. Pencarian butiran butiran cahaya memang bagi sebagian manusia begitu sulit, akan tetapi jika manusia mengembalikan semua insyaAllah akan menemukan cahaya itu. Mengembalikan semua tidak hanya dengan kepasrahan. Jika memaknai semua dengan lebih dalam akan kita sadari bahwa ujian itu adalah sebuah kenikmatan. #maiyah #WK #warokaprawiran


Waro' Kaprawiran dengan Tema Babat Bibit Bobot bertempat di Balai Desa Mangunharjo, Ngawi dibuka dengan Pembacaan Al-Fatihah dilanjutkan Sholawatan Indal-Qiyam

Setelah Sholawatan Indal-Qiyam, Kyai Mudzakir dari Desa Mangunharjo memimpin do'a untuk mendo'akan semua yang hadir maupun yang tidak hadir, khususnya acara malam ini menjadi lebih barokah. Amin 

Menambah gayeng dan rasa kekeluargaannya acara malam ini, Kepala Desa Mangunharjo ikut menyumbangkan suara dengan menyanyikan tembang ilir-ilir dengan diiringi Gamelan Kiai Iket Udheng 

selepas dari tembang lir ilir. pak Anang dari magetan memaparkan babat itu memulai, merintis bibit menandur/menanam, sedang bobot bukanlah kuantitatif, tetapi kualitatif nilai. 

saat ini kondisi bangsa/anak muda sangat mencemaskan...diperlukan adanya generasi yg mau babat, memangkas...dan mulai menanam dari yang terkecil serta mulai mbobot menghasilkan suatu kebaikan/bibit bibit baru yang lebih berbobot.(GAB)

 


Acara rutinan bulanan Waro’ Kaprawiran bulan maret ini bertempat di magetan, rumah mas ady salah satu penggiat Waro’ Kaprawiran. Acara dibuka oleh mas aji selaku moderator dengan membaca surat Al-fatihah bersama-sama. Semoga semua yang kita lakukan selalu mendapat bimbingan dan petunjuk Allah. Terutama dalam urusan “ndandani njero omah” ini.

Tema Waro’ Kaprawiran malam ini, "Ndandani Njero Omah", Mas Adi mengawali dengan mencoba mengelaborasi tema malam ini. Rata rata yang ada saat ini hanyalah pencitraan. Akan berpura pura baik, seakan akan baik, padahal dalamnya. Entah

Selanjutnya Mas koko menginfokan kepada jamaah yang baru datang, bahwa pada tahun ini, Waro’ Kaprawiran akan digelar secara bergantian di empat kabupaten. Sesuai musyawah yang telah dilakukan oleh penggiat Waro’ Kaprawiran pada awal tahun ini. Format seperti ini tidak baku, bisa berubah sewaktu-waktu, formula terbaik masih dicari sambil terus berjalan acara rutinan bulanannya. Maka tema yang diambil malam ini seputar “dandani njero omah” umumnya Indonesia, khusunya keluarga Waro’ Kaprawiran, lebih khususnya kelurga kita masing-masing pribadi dan yang lebih khusus dan utama lagi njero diri pribadi kita sendiri-sendiri.

Mas Koko mengebalorasi tema, bahwa tema ini sangat cocok untuk kita. Bahwa saat ini yang dicitrakan hanya kulit. Jangan sampai kita kelihatan di luar bahwa kita sangat baik, rukun, tapi didalamnya kita kebalikannya. Lalu apa formulasinya? Mas Koko mengajak jamaah bersama sama memikirkan hal tersebut. Kita diajarkan di Maiyah bahwa kerangka berfikir lebih penting dari yang lain.

Menurut Bang Jeje, mencoba mengelaborasi tema, dari sudut pandang pencak silat. Sebelum menyampaikannya beliau berterima kasih kepada Cak Nun, entah kebetulan atau tidak, yang pasti sudah kehendak Allah, sekarang Madiun sudah diresmikan sebagai Kampung Pendekar oleh Menpora, setelah acara Waro’ Kaprawiran Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng dengan tema Pencak Silat bulan Desember tahun lalu. Bang Jeje memulai dengan pertanyaan, Apa sih yang sudah kita benerin dari dalam diri kita? Tidak ada yang tahu dalam rumah sendiri selain diri kita sendiri. Menurut mas jeje Edukasi dan budaya menjadi landasan utama untuk "ndandani" Ndandani omah, mari kita mulai dandani itu dengan prasangka yang baik (Khusnudzon).


Baca selengkapnya