Acara Majelis Masyarakat Maiyah Waro' Kaprawiran edisi Oktober bertempat di Waterpark Kintamani Ponorogo dibuka dengan nderes Surat An-Nisa'. Setelah nderes Al-Qur'an dilanjut dengan Sholawatan bersama untuk menyapa dan menghadirkan Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W sebagai Gondelan kita dalam hidup ini dan yang kita harapkan Syafaatnya nanti di hari Kiamat. Amin

Sebelum memasuki sesi jagongan tentang tema malam itu yaitu SANT[RI], seluruh Jamaah yang di pimpin ibu-ibu Mahibba (Maiyah Ahibba) dengan diiringi Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) membawakan Wirid Wabal dengan hikmat dan khusu’, di zaman yang tidak menentu seperti sekarang ini, semoga yang baik akan mendapatkan balasan kebaikan begitu pula sebaliknya. Amin

Memasuki jagongan dan diskusi dengan tema SANT[RI], Sebelum Mas Najih sebagai moderator mempersilahkan Narasumber-narasumber maju, Mas Koko selalu Koordinator Waro’ Kaprawiran memberikan sambutannya, pertama beliau berterima kasih kepada semua Jama’ah yang telah hadir, selanjutnya beliau mengenalkan di Maiyah khususnya Waro’ Kaprawiran ada Mahibba (Maiyah Ahibba) untuk ibu-ibu dengan kegiatan rutinnya yaitu sholawatan, baca wirid tahlukah, wabal dan menamani Malik. Malik (Maiyah Cilik) adalah anak-anak dari anggota Maiyah yang berkumpul dengan kegiatan utamanya adalah bermain dan menggali Dolanan Anak Lawas yang mulai ditinggalkan.

Narasumber malam itu adalah Lek Ham, Gus Hilmi dari Pondok Pesantren Salafiyah Subuhun Najah, Ustad Wahyu dan Heru dari Pondok Modern Gontor dan Mas Adung. Sambil para narasumber maju menempati tempatnya, Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) bersama para jamaah melantunkan Hasbunallah untuk lebih memantapkan hati bahwa hanya dan cukup Allah sebagai tempat meminta pertolongan dan yang mampu memberikan pertolongan bagi diri kita.

Gus Hilmi dipersilahkan pertama untuk membahas tema malam itu, beliau menceritakan keseharian beliau dalam mengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Subuhun Najah, menurut beliau kenapa santri-santri dulu ilmu nancap dan bermanfaat karena Guru-guru atau Kyai dahulu itu dalam mengajar sangat ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun kecuali hanya ridho Allah SWT.

Gus Hilmi kembali membaca Qs. At-Taubah :122 kemudian mengartikannya, menurut beliau ayat tersebut selalu dikutip dalam dunia pondok pesantren sejak dahulu. Pada intinya kita diperintahkan untuk berbagi tugas, ada yang maju “berperang” dan ada yang tinggal untuk mendalami ilmu agama dengan serius. Keduanya mempunyai manfaatnya masing-masing.

Selanjutnya Mas Najih selaku moderator mempersilahkan temannya waktu mondok di Pondok Modern Gontor untuk ikut mengelaborasi tema Santri malam itu. Sebelum Ustad Wahyu menceritakan pengalamannya selama nyantri di Gontor, beliau mempersilahkan teman sesame ustad di Gontor yaitu Ustad Heru dari Magelang untuk maju dan ikut membagikan ilmunya tentang tema santri malam itu. Menurut Ustad Wahyu, siapa saja yang menyerukan dan berbuat kebaikan sudah bisa disebut Santri, tidak hanya yang mondok di Pondok Pesantren. Selanjutnya menurut beliau, santri adalah masa depan Indonesia dan santrilah yang nantinya bisa memajukan serta menyelamatkan negara kita.

Ustad Heru mengungkapkan sangat bergembira bisa diperjalankan mengikuti acara rutinan bulanan Waro’ Kaprawiran di Ponorogo pada malam itu. Ustad Wahyu dan Ustad Heru sudah sekitar tujuh tahun tinggal di Ponorogo dan baru bisa malam itu bisa mengikuti acara rutinan Waro’ Kaprawiran. Lebih lanjut beliau menceritakan sudah lama belajar ilmu Maiyah dan Mbah Nun yang diperkenalkan oleh Almarhum Bapak Agung Waskito. Kemudian beliau mengajak para jamaah untuk memberikan hadiyah Al-fatihah kepada Almarhun Bapak Agung Waskito. Selanjutnya Ustad Heru masuk membahas tema Santri, menurut beliau Santri berasal dari San : Matahari dan tri : tiga, tiga matahari dalam hidup kita adalah Iman, Islam dan Ihsan. Berbicara santri adalah berbicara cita-cita dan masa depan, sebelum menutup pemaparan sekali lagi beliau mengungkapkan kegembiraannya malam itu bisa bersilaturrahmi dan berkumpul dengan Jamaah Maiyah khususnya Waro’ Kaprawiran. Kemudian mengutip ayat yang pada intinya “barang siapa yang mau dipanjangkan umurnya dan mendapat rezeki yang banyak, maka perbanyaklah silaturrahmi.

Sebelum narasumber berikutnya, Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) membawakan lagu Asmara yang membuat suasa kemesraan semakin terasa. Sebelum membawakan lagu tersebut, Ibu Mamik vocal KIU sekaligus Anggota Mahibba mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti Maiyah khususnya Mahibba, keluarganya semakin mesra, aman dan tentram. Amin

Mas Adung sebagai narsumber berikutnya mengungkapkan kalau Santri itu yang mondok saja, berarti beliau juga bisa disebut santri karena selama kuliah di Jogja beliau mondok bahasa lainnya ngekost. Pada intinya jangan hanya mengartikan santri secara umum yaitu yang mondok di pondok pesantren, tapi lebih kepada esensi santri yaitu yang berseru dan selalu melakukan kebaikan.

Narasumber selanjutnya adalah Lek Hamad untuk menjangkepi pemaparan-pemaparan narasumber sebelumnya, beliau mengungkapkan banyak bersyukur pada malam itu diperjalankan oleh Allah untuk bisa hadir di acara rutinan bulanan Waro’ Kaprawiran di Ponorogo. Beliau selalu mengingatkan untuk selalu merawat dan terus meningkatkan rasa paseduluran, kalau paseduluran kita sangat kuat, ada masalah apapun tidak ada artinya.

Menaggapi tema santri beliau mengungkapkan konsepnya, santri itu MLM (Melek, Luwe, Mlaku) pertama Melek, melek secara makna tidak banyak tidur, sering ngaji dan sholat malam maupun melek dalam artian membuka mata seluas-luasnya untuk semua hal, segala kemungkinan yang terjadi dan tidak muda terpincut oleh hal-hal Duniawi. Kedua Luwe artinya banya puasa dan tirakat, seperti yang sering disampaikan dalam Maiyahan, Puasa adalah latihan untuk mengetahui batas kita. Terakhir adalah Mlaku, santri harus terus mlaku dalam artinya sebenarnya dan dalam artian mlaku bergerak terus mencari ilmu, beliau sendiri suka mlaku atau berjalan tidak hanya antar desa tapi juga antar kota untuk mencari ilmu, Karen yang naik sepedah dan jalan kaki akan mendapat ilmu yang berbeda dalam setiap perjalanan, orang yang berjalan akan bisa lebih banyak menyerap ilmu-ilmu dari apa saja. Jadi yang sudah biasa melakukan tiga hal tersebut maka bisa bisa disebut santri, walau tidak pernah mondok di Pondok Pesantren.

Sebelum memasuki sesi tanya jawab dan pemaparan tanggapan dari Jama’ah, Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) membawakan lagu Ngopi untuk menambah semangat acara malam itu. Mas Koko mengelaborasi sebagai salah satu tugas dan kewajiban santri adalah nandur-nandur tanpa terlalu mengharap panen, karena panen adalah hak dan kehendak Allah. Mas Koko meneliti tumbuhan-tumbuhan yang ditanam di suatu daerah mencerminkan pemimpin daerah itu, misalnya di daerah itu banyak tumbunan rimbun, bisa dipastikan pemimpinnya mengayomi dan lain-lainya.

Selanjutnya salah satu Jama’ah yang jauh-jauh datang dari Hutan Donoloyo Wonogiri ikut menanggapi tema Santri, beliau setuju dengan bahwa Santri tidak hanya yang mondok. Selanjutnya salah satu jamaah yang lain yaitu Mas Sofyan menyampaikan bahwa pahlawan-pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia yang basicnya adalah santri atau anak seorang Kyai, contohnya Pangeran Diponegoro, Ki Hajar Dewantoro, H. Mutahar dan lainnya. Jadi bisa dikatakan santri adalah masa lalu, masa sekarang dan masa depan Republik Indonesia, kita harus bangga dan bersyukur menjadi Santri.

Sebelum sholawatan dan membaca do’a, Lek Ham mengingatkan lagi, salah satu tujuan nyantri atau menjadi santri adalah ahlaknya, menjadi baik dan lebih baik ahlaknya. Sebelum acara ditutup Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) mengajak semua Jama’ah untuk membawakan Sohibu Baiti, acara ditutup kemudian bersalam-salaman sambil sholawatan. Terima kasih kepada semua Jama’ah yang hadir dan sampai berjumpa lagi di acara Waro’ Kaprawiran bulan depan.(GAB)