Setelah Tarawih Acara dibuka Mas Najih Selaku moderator dengan mengajak bersama-sama membaca Surat Al-Fatihah yang utama ditujukan kepada kanjeng Nabi Muhammad S.A.W, kedua kepada semua dulur yang hadir mau yang tidak bisa hadir dan yang ketiga ditujukan kepada Almarhum Bapak dari istri Pak Arif vokalis KIU yang baru saja berpulang. Tidak hanya hidiyah Al-Fatihah, setelah membuka acara moderator mengajak jamaah yang hadir untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat Ghoib yang di Imami oleh Pak Anang kemudian dilanjut Tahlilan.    

Selesai Tahlilan Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) membuka dengan nomor Pambuko dan Kenduri Sholawat, kemudian moderator mempersilahkan para narasumber naik ke panggung, narasumbur malam itu Pak Anang, Pak Koko, Pak Ady, Mas Hamid dan Mas Sofyan. Mas Najih mulai masuk tema mokal mokel malam ini, “mokal” pada idiom “mokal mokel” setidaknya mengandung dua arti yang saling berlawanan. Arti yang pertama terkait idiom “mokal mokel” dapat diartikan sebagai pengulangan aktivitas mokel secara terus-menerus. Kasus serupa terjadi pada kata “gonta ganti”, mompar mampir”, “ndelak ndelok” dst. Idiom ini merepresentasikan manusia yang sering melakukan “mokel” secara terus-menerus. Adapun arti kata “mokal” pada istilah “mokal mokel” juga bisa diarti sebagai kata mustahil atau tidak mungking (red: mukhal). Artinya, selain berarti melakukan aktivitas mokel secara terus menerus, idiom “mokal mokel” juga bisa diartikan mustahil melakukan mokel. Dua arti yang saling berlawanan meskipun berasal dari satu istilah yang sama.

Mas Hamid oleh moderator dipersilahkan yang pertama membahas tema mokal mokel malam ini, beliau mengaitkannya mokal mokel dengan Waro’ yang terkenal di Ponorogo dan sekitarnya, Mbah Nun tentunya lebih tahu tentang Waro’ karena beliau sendiri yang memberi nama simpul Maiyah Madiun, Ponorogo, Magetan dan Ngawi dengan nama Waro’ Kaprawiran, Mas Hamid mengajak para Pegiat dan Jamaah Maiyah khususnya Waro’ Kaprawiran untuk lebih mengenal dan menggali nama simpulnya sendiri. Menurutnya Waro’ berasal dari Wira'i, wara', weruk, arok.. Terlepas dari penafsiran tentang asal usul namanya, Warok merupakan status terhormat bagi masyarakat Ponorogo. 

Selama ini, warok sering diidentikkan dengan orang yang jago bertarung dan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Itu tidak salah, namun seorang warok yang telah mencapai puncak kesejatiannya, dia tidak lagi menonjolkan kesaktian lahiriah-nya, tapi lebih kepada olah batiniah. Karena orang jawa meyakini bahwa "sak jadug-jaduge uwong, yaiku uwong kang paling sabar lan sumeleh atine (setinggi-tingginya kesaktian adalah kesabaran)". Namun kalau terpaksa harus bertarung, seorang warok tidak mengenal rasa takut, "jaya utawa pralaya (menang atau mati)", tak ada kata kalah

Terdapat kemiripan antara wara’ dalam arti mistik islam dengan warok Ponorogo, jika dalam literatur mistik islam wara’ merupakan sikap terpuji disamping taubat, zuhud, tawakal, ridho, maka warok dalam istilah budaya Ponorogo adalah sebuah nama yang sekaligus simbol dari kelas dan status sosial yang tinggi di kalangan masyarakat. 

Untuk mempertahankan daya mistik di kalangan warok Ponorogo mereka melakukan perilaku ritual yaitu dimulai dengan penyucian diri, yaitu meliputi tiga hal yaitu kesucian suara, kesucian tenaga dan kesucian rasa. Selain melakukan tiga aktivitas tersebut seorang warok juga harus melakukan tirakat mengurangi makan untuk menyucikan wujud, mengurangi tidur untuk menyucikan rasa, mencegah syahwat untuk menyucikan daya kekuatan. 

Tahap berikutnya adalah berpuasa, ada sembilan puasa yang dilakukan yaitu puasa ngrowot, puasa ngidang, puasa mendhem, puasa pati geni, puasa mutih, puasa ngalong, puasa ngasrep, puasa ngepel dan puasa ngebleng. Untuk melengkapi perilaku warok maka harus pula meninggalkan pantangan-pantangan yang harus dihindari adalah molimo ditambah dua macam sehingga ada tujuh macam pantangan yaitu maling, madat, main, minum, madon, selain molimo diatas ditambah dua macam yaitu mateni dan madani.

Kriteria seseorang yang berstatus sebagai seorang warok dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, warok memiliki tipologi dan profil, berpakaian khas Ponorogo (Penadon) dengan warna khas baju hitam celana hitam, beserta atribut-atribut sebagai pelengkapnya. warok mempunyai wibawa, disegani dan dihormati oleh masyarakat. Selain itu warok juga sebagai pemimpin sekaligus pemain barongan yang mengerti arti hidup dan kehidupan. Dilihat dari tataran ilmu, warok adalah figur yang kebak ilmu, artinya menguasai ilmu baik lahir maupun batin. Selain itu, warok juga memiliki ilmu kesaktian dan ilmu kekebalan badan. Kedua, jalan (lelaku) yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai warok terlebih dahulu harus bisa memenuhi 9 (sembilan) syarat pokok, yaitu: berhati bersih dan berpikir positif, sopan santun, jujur, tidak berkata kotor dan berhati-hati, mengurangi keinginan nafsu, berjiwa perwira, adil, bijaksana dan tidak membeda-bedakan, suka menolong tanpa pamrih, sabar, tidak sombong.

Di jaman modern seperti sekarang, "laku" untuk menjadi seorang warok tentu tidak harus seperti warok pada jaman dahulu. Karena tantangan jaman telah berubah. Maka siapa saja yang memiliki jiwa dan mental ksatria, dia adalah warok.

Setelah pemaparan Mas Hamid, moderator meminta Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) membawakan satu nomor untuk lebih menghangatkan suasana, kemudian KIU membawakan nomor Hasbunallah untuk lebih memantapkan hati semua jamaah yang hadir bahwa hanyalah Allah dan cukuplah Allah sebagai penolong kita. Narasumber selanjutnya Mas Sofyan dipersilahkan membahas tema mokal-mokel malam ini, Mas Sofyan mengaitkan mokal mokel dengan puasanya orang dahulu, menggali lebih dalam puasanya orang dahulu sehingga menjadikan orang dahulu seperti Waro’ itu sakti, bisa mendapat kamorah dan sebagainya. Narasumber selanjutnya Mas Ady yang membahas tema, seperti yang kita lakukan ini adalah puasa, mustahil/mokal mokel, karena yang terus dilakukan orang Maiyah adalah 3 hal : Nandur, Poso, Shodaqoh.

Selanjutnya Pak Anang dipersilahkan membahas tema malam ini, beliau melanjutkan pembahasan puasa orang zaman dahulu dan apa yang membuat orang dahulu itu sakti, sampai pada derajat Sunan/Wali, sekarang ini sedikit-sedikit Ustad disebut Sunan, Guyonan beliau setelah mendapat daftar 9 Sunan baru yang beliau baca di media sosial, menurut beliau orang dahulu itu tirakat puasanya berat dan tentunya lama untuk tidak mokel dalam artian batal, kalau puasa sebentar aja mokal mokel, mana mungkin bisa orang dahulu menjadi seperti itu, misalnya mendapat karomah sepi angin, ngrogo sukmo, membelah diri dan sebagainya. Seperti maiyah ini, Mbah Nun sudah lama sekali Puasa dari dunia, kepopuleran, jabatan, kekayaan, dan sebagainya, belum tahu kapan mokelnya atau berbuka, hampir mustahil/mokal mokel, hanya Allah yang tahu.

Semakin malam semakin gayeng pembahasannya sambil ngopi, kemudian Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) mebawakan lagu berjudul ngopi yang berasal Suriname, selanjutnya masuk sesi tanya jawab. Mas Rendra yang pertama diberi kesempatan menyampaikan pendapat dan pertanyaan tentang tema malam ini, beliu pernah membaca dan mendengar bahwa tidak ada yang mustahil di muka bumi ini. Jadi pertanyaannya adalah apa mustahil/mokal untuk tidak mokel? Mas Koko diberi kesempatan lansung menanggapi pertanyaannya, berangkat dari Al-Qur’an “Min khaisu la-yahtasib” tidak ada yang mustahil di muka bumi, memang semuanya mungkin, misalnya mokel, tapi jika dibalik sangat mungkin juga untuk tidak mokel, pertanyaannya tinggal mau apa tidak, serius dan istiqomah apa tidak untuk tidak mokel.

Selanjutnya Mas Frengky Jamaah Maiyah asli Ponorogo yang sedang Kuliah di Solo dan aktif di Maiyah Suluk Surakartan ikut melingkar dan sinau bareng, beliau menggali terminologi Puasa dari Upawasa, pasa yang sudah aja sejak zaman nenek moyang terbukti dengan adanya Prasasti Upawasa di Candi Cetho. Tirakat upawasa dahulu dilakukan untuk bisa mencapai level/derajat Brahmana kalau kita menyebutnya Sunan/Wali. Jamaah Selanjutnya Mas Jeje yang ikut menanggapi tema mokal mokel malam ini, beliau menambahkan tentang jenis-jenis puasa, ada puasa ngrowot, puasa pati geni, puasa mutih dan lainya, kalau puasa dohir seperti yang kita lakukan di bulan Ramadhan/puasa ini jelas, mokel/batal/berbukanya jelas dengan makan dan minum, pertanyaannya kalau puasa bathin bebukannya dengan apa? Pak Anang dipersilahkan menjawab pertanyaan jamaah, beliau mencoba menjawab tentang bukanya puasa bathin, bukanya adalah selamat di dunia dan akhirat, karena tidak ada kepuasan bathin selain itu. Jadi puasa bathin ini tentunya lebih sulit dan berat pelaksanaanya dibandingkan puasa biasa/dohir. Mbah Nur salah satu Jamaah Maiyah yang hadir juga ikut memberikan tanggapannya, di dunia ini kita semua bisa diibaratkan sebagai pelajar, jadi sesame pelajar tidak bisa memberikan nilai kepada pelajar yang lain, terutama dalam hal puasa, karena kita sendiri dan Allah yang tahu puasa kita.

Sebelum di tutup, Jamaah diiringi Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) bersama-sama membawakan Sohibu Baiti (Allah Tuan Rumahku) dengan berdiri menjadikannya lebih khusu’, selanjutnya berdo’a dipimpin oleh Pak Anang. Waktu Pukul 01.00 WIB berarti kita harus Puasa lagi, karena orang puasa adalah belajar mengetahui batas karena terlalu banyak juga tidak enak, biarlah kita jaga rindu kita di ruang rindu untuk bertemu lagi pada Waro’ Kaprawiran edisi bulan depan, Mas Najih selaku moderator menutup Waro’ Kaprawiran malam ini kemudian dilanjut Sholawatan sambil salam-salaman berkeliling untuk lebih mempererat persaudaraan.

Setelah selesai bersih-bersih lokasi acara, Pegiat Waro’ Kaprawiran dan Personil Gamelan Kiai Iket Udheng (KIU) Ta’ziyah ke Rumah Pak Arif sampai menjelang waktu Sahur, para pegiat sampai rumah pas waktu Sahur. Selamat Bepuasa lur!(GAB)