“ Pertemuan”

Gerimis malu-malu menyambut Wk April’18 malam itu. Group Musik Kiai Iket Udheng dari Ponorogo semenjak ba’dha Ashar telah hadir bersama panggung yang setengah jadi tertata. Dua orang penggiat yang sumeh dan masih bercelana pendek, senyum-senyum bangga sembari membawa kopi seteko di tangan mereka menyambut kehadiran KIU. Kopi olahan para jejaka dari café dadakan. Aih sedapnya dilidah para anggota group Kiu yang lelah perjalanan dengan mobil pickup dan motor ke lokasi yang lumayan njlimet disenja itu. Awan menggelap. Maghrib segera menjelang. Mas Koko dan tim Ziarah bergegas menuju makam Rancang Kencana atau bisa disebut Dewi Rohmani, konon ia adalah wanita paling cantik di Desa Metesih tersebut, pada saat itu. Pas, pas Hari Kartini, dan yang kita ziarah-i pas wanita. Pas banget. Salam dan doa terpanjat, berharap restu dari nenek moyang agar pemuda pemudi tatag kuat merenda hari-hari kedepan yang nampak semakin rumit. 

Maghrib menjelang, panggung kembar tertata rapih. Ba’dha maghrib merambat bersama hadirnya anak-anak kecil berseragam serba putih hilir mudik di depan paggung. Riuh rendah mereka bergurau. Berlarian dan nampak dari mereka ada yang sibuk mendadani diri dan mendadani satu sama lain. Ada yang merapihkan baju ,sibuk menghafalkan lagu atau semacam doa, dan bahkan ada yang melakukan gerakan-gerakan tertentu. Ah ternyata memang mereka sedang mempersiapkan diri untuk perform di awal acara  WK April malam itu. Mereka adalah santri-santri PonPes Al-Mukaromah Metesih. Salah satu penyokong acara WK April malam itu bersama masyarakat Metesih, jama’ah ibu-ibu Yasinan Metesih dan para penggiat WK. Wk mencoba melingkar keluar, bergandengan dengan masyarakat sekitar untuk merapikan jejak langkah kebaikan. Sehingga nilai-nilai maiyah mampu terserapkan oleh masyarakat sekitar, tak hanya pada masyarakat maiyah saja. Namun memulai mengenalkan ke masyarakat umum. Blended. Make a bond. Maka Isro’ Mi’rojlah yang kami usung, bersama tema khas anak Maiyah dengan judul ‘Biasa’ yang berjalan mengiringi malam itu.

Ada yang unik pada acara WK April malam itu. Pada acara manapun, biasanya panggung hanya satu. Tapi tidak malam itu. Untuk perform santri-santri disediakan panggung tersendiri, yaitu panggung menghadap barat, dimana memang panggung tersebut dirancang untuk perform, sehingga agak tinggi dan berjarak sekian meter dari penonton. Bahkan diberi pagar, mungkin pihak Ponpes takut ada anak jatuh barangkali..he..he. Sedangkan panggung ke dua, dihadapkan ke utara, yang mana dibuat sejajar dengan jama’ah, panggung ala maiyah yang berlandas andab ashor, rasa belajar bersama dan memiliki ketinggian rata antara narsum dan jama’ah. Begitulah.

Ba’da isya. Halaman ponpes telah penuh dengan jamaah. Baik dari masyarakat sekitar, santri-santri ponpes dan jamaah maiyah berbaur menjadi satu. Pimpinan Ponpes Al Mukaromah Ustadz Arifin membuka acara bersama  dengan membawa wayang kulit salah satu tokoh wayang, yaitu Petruk. Bersama Mas Koko, Ustadz Arifin mencoba sekedar saling memperkenalkan antara jamaah satu sama lain. Yaitu antara Ponpes AlMukaromah dan anak-anak Maiyah.  Agar terbangun jembatan indah dalam silaturahmi malam itu. Lantas perform-perform dari segenap santri santriwati tergelar apik merdu dan syahdu mengawali WK April malam itu. Masyarakat yang notabene ada yang sebagian adalah orangtua para santri tampak sorot bangga dimata mereka. 

Penampilan pertama santriwan santriwati pondok al-mukarromah adalah Tartil Al-Qur'an dilanjut hafalan Al-Qur'an Juz 30. Salama di negeri ini masih ada anak-anak kecil yang mau menghafal Al-Qur'an, Insya Allah negara kita akan dilindungi oleh Allah. Amin. Penampilan ketiga santriwan santriwati Al-Mukarromah adalah menampilkan Koor Do'a Khotmil Qur'an. Khataman Al-Qur'an tidak hanya dalam artian Selesai membaca seluruh Ayat-ayat dalam Al-Qur'an, tapi juga bisa dikatakan Khotmil Qur'an setelah membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang ada di Alam sekitar kehidupan sehari-hari. Acara malam ini juga dirawuhi pak Lurah Metesih, beliau sangat senang dan gembira ataa kerjasama dalam peringatan Isro' Mi'roj malam ini, Pak Lurah yang telah hadir dari tadi dan menyaksikan penampilan santriwan santriwati Al-Mukarromah sangat bangga, anak-anak inilah penerus bangsa. semua yang tampil tadi akan menjadi penerus bangsa yang melanjutkan cita-cita para pendahulunya. Jadi merekalah yang harus kita jaga karena sebagai penerus-penerus bangsa.

Setelah usai para santri menunjukkan kebolehannya, sekitar  pukul 21.00 malam. Kini saatnya jama’ah ‘minger’ dan menghadapkan posisi duduknya ke arah utara. Yaitu menghadap panggung ala-ala Maiyah. Rendah dan lengkap dengan alat music dari KIU. Karena negeri ini masih memperingatti hari Kartini yang notabene ia adalah ibu. Maka Group Musik KIU membuka sesi ke 2 dengan mendendangkan lagu dangdut milik Bang Haji Roma Irama yang berjudul Keramat. Berharap makna Kartini sekeramat makna ibu dalam jiwa pemudi-pemudi nusantara dan pemudi-pemudi WK.

Isro’ Mi’roj melandasi acara malam itu. Dimana sekian jarak tempuh Rosulallah dalam perjalanan Isro’ Mi’roj dan sekian cerita perjalanan beliau, maka sholat lah akhir dari buah yang dipetik setelah Rosulallah menghadap Allah dan rapat sejenak dengan nabi Musa. Maka Mas Koko membuka termin belajar sesi 2 tersebut dengan mencoba menjembatani tema WK berjudul ‘BIASA’ malam itu dan tema “Sholat” kepada ibu-ibu Yasinan dan masyarakat sekitar. ‘Biasa’ dalam artian tidak berat dalam mengerjakan sholat. Tidak membebani dan tidak penuh ancaman-ancaman horror. Namun lebih berupaya memaknai sholat kepada rasa luwes dan penuh cinta kasih baik vertikal( Allah) maupun horizontal(sesama). 

Diawal, Mas Koko mencoba bertanya hukum sholat wajib kepasa ibu-ibu. Mereka serempak menjawab “Wajiibbb!” Karena ini tempat belajar bersama, Mas Koko mencoba menkonfirmasi ulang pertanyaan hukumnya sholat wajib kpd ibu-ibu dan jawabannya masih sama yaitu wajib. Lantas beliau menanyakan hal baru. “Jika wanita haid, hukum sholatnya apa bu?”, ibu-ibu serempak menjawab haram, tidak boleh. “Loh katanya wajib bu?”. Ibu-ibu dan seluruh jamaah senyum-senyum geli. “Berarti hukum sholat gojak gajek bu?” ibu-ibu semakin terpingkal kegelian mendengar istilah gojak gajek. Belum usai tawa jama’ah, Mas Koko menimpali dengan pertanyaan yang menggelitik jamaah. “ Kalau buang air besar bu, hukumnya apa?”  tampak raut muka agak bingung dari jamaah, kenapa tiba-tiba tanya hukum buang air besar, mungkin itu maksud raut bingung jamaah. Dari pertanyaan Mas Koko, ada yang berceletuk boleh, ada juga yang berceletuk wajib dan ada yang berceletuk riuh tidak jelas makna. Jika orang mau sholat kan tidak boleh menahan hajatnya untuk buang air besar. Harus dituntaskan dulu buang air besarnya. “Bagaimana ibu-ibu, kalau sedang haid jelas tidak boleh sholat, tapi kan masih diwajibkan menuntaskan buang besar bu, biar sehat tubuhnya. Lebih penting sholat apa buang air besar bu?” jamaah tertawa namun juga menyiratkan tanya dimata dan raut wajah mereka. Mungkin baru kali ini mendapat materi pegajian Isro’ Mi’roj nyeleneh seolah menabrak pakem fiqih. Sholat itu ibadah, buang air besar juga ibadah apalagi isah-isah, umbah-umbah ataupun macul sawah. Apapun itu pekerjaan kita jika dilandasi taat kepada Allah maka disebut ibadah. Hal itulah yang disampaikan untuk jamaah malam itu. Alhamdulillah jamaah mantuk-mantuk, semoga hal itu tanda faham dari jamaah masyarakat sekitar. Semoga.

Malam merangkak, santri-santri Diniah tampak mengantuk. Mereka mengandeng ibu-ibu mereka untuk pulang dengan mata tiggal 5 watt menyala. Begitulah, anak-anak. Perlahan jamaah ibu-ibu, anak-anak santri tinggal beberapa gelintir saja. Tampak jamaah maiyah yang semakin malam semakin berduyun-duyun hadir, semakin exited dan gayeng. Ditemani beberapa bapak-bapak masyarakat sekitar yang masih setia bersama kopi bikinan penggiat dan kepulan putih rokok diatas kepala mereka yang penuh keingin tahuan.

Mas koko mempersilahkan beberapa penggiat sepuh untuk maju ke depan sekedar membagi isyarat ilmu mereka tentang sholat, ibadah dan hal biasa yang tak biasa malam itu. Ada gus Sofyan, Pak Ipong dari PSM Magetan, Gus Hilmy dari Ponpes Subulun Najah Lembeyan juga Pak Anang yang datang terlambat. Gus Sofyan memulai melandasi sholat pada ‘absussalam’ yang bermakna menyebarkan keselamatan, dimana hal itu terletak pada percakapan Allah dan Rosulallah di bacaan tahiyat yang mana esensi manusia adalah berbuat baik dan saling memaafkan kepada sesama, khoirunnaas anfa’uhumlinnas. Bahkan dalam Quran Surat Asy-Syura dikabarkan “wama ashoobakum mimmushibatin kasabat aidiikum wa yaghfuu ‘ankatsiiron”, apa yang terjadi pada dirimu adalah akibat dari perbuatanmu sendiri, dan banyaklah memaafkan. Hal ini bermaksud jika kita memiliki sholat yang sesungguhnyna maka kepada masyarakat pun kita akan menebar kabaikan, keselamatan, rasa maaf dan toleransi. Telak Gus Hilmy pun menambahkan bahwa ibadah bermakna mengabdi, menyembah lahir batin, yang mana digambarkan seolah seperti salib ( saya jadi ingat ilmu salib dari ungkapan Cak Nun dalam buku Kitab Ketentraman). Yaitu Habluminannas adalah garis horizontal kekanan dan kekiri, sedangkan habluminallah adalah garis ke atas. Menurut beliau sholat, secara bahasa sebenarnay dari shola-, namun huruf “ta” nya adalah huruf tambahan, atau ta’ziyadah sehingga bermakna pertemuan. Sehingga bisa ditemukan makna bahwa sholat sejati adalah sholat yang memiliki kualitas pertemuan dengan Allah, baik kepada Allah sendiri yaitu  liqo’un ‘adhim maupun dengan sekeliling kita. 

Selepas Gus Hilmy mengutarakan tentang Pertemuan, Kiu gemas akan kata dan makna Pertemuan dan segera mendendangkan lagu dangdut lawas berjudul Pertemuan. Tak mau kalah gemes, Mas Koko  pun teringat akan pertemuan bule Inggris bernama Ian Miguere yang bulan Maret dipertemukan oleh anak Maiyah Ponorogo dan dipertemukan lagi kepada gus Hilmy untuk belajar Islam. Dan didalam belajar tersebut, beliau ingat makna allahuakbar saat takbirotul ikhram yang oleh Ian dirasa sebagai surrender. Atau menyerah. Tangan diangkat benar-benar persis seperti gerakan orang ditodong pistol atau senjata lain sehingga tak memilikidaya upaya selain menyerah kepada Allah. Apa sih yang kita bisa lakukan kepada Allah selain menyerah. Taat. Manut akan tulisan-tulisanNya kepada kita. Mas Koko menambahkan bahwa gerakan-gerakan sholat memiliki berjuta asumsi makna, terserah kita ingin menjuluki sebagai apa dalam gerakan-gerakan tersebut. Allahuakbar bisa dimaknai surrender atau angkat tangan, atau bisa saja memiliki arti seperti hormat bendera atau semacamnya, tak masalah. Yang terpenting adalah rasa ‘pertemuan’, perjumpaan yang khusuk kepada Allah saat sholat. Itu yang utama. Sehingga menjadi pribadi yang tatag, pasrah dan kuat menerima apapun skenario Allah kepada kita semua dan ramah penuh damai kepada sesama. 

Tak lupa kehadiran pak Anang membuat jamaah terpingkal-pingkal atas julukan beliau dari mas koko sebagai maestro aeroherbal. Tak habis pikir hati jamaah kegelian membayangkan pesawat dari bahan herbal. Selepas aeroherbal yang berwujud merpati Pak Anang jelaskan tak lupa pak Anang pun menambahkan beberapa makna sholat yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran. Pula beliau menambahkan bahwa Orang yang sholat pasti orang baik. Kalau ia tak baik berarti sholanya hanyalah ritual belaka. Belum sholat sungguhan. Belum sholat sejati. 

Malam itu ada dua tamu di luar wilayah WK. Yaitu jamaah rombongan dari Purwantoro yang dinahkodai oleh Mas Rahman dan dikomando oleh Lurah Warto.  Dari Nganjuk Tasawuf Cinta ada Mas Tri. Sekilas mas Tri mengupas sedikit tentang kualitas  sholat maknawi yang mendalam dan meluas. Sehingga tak terjebak pada sholat gerak ritual saja. Dan mas Adung dari Madiun mencoba menarik garis-garis dari sekian pendaran-pendaran ilmu yang telah dikuakkan oleh teman-teman. Ia berujar bahwa makna sholat belandas pada sholu-sholawat dan terwujud dalam silaturahmi yang benar. Sehingga bisa ‘nyambung’ terus melalui latihan sholat tersebut. Apbila nyambung arah vertical dan horizontalnya klik dalam istiqomah, otomatis akan mampu menjaga keharmonisan alam semesta dalam keamanan dan keselamatan. 

Malam larut menuju puncak waktu. Suasana berliput ger-ger an, dirangkai kecerdasan, digelitik kekritisan, menggelora informative dan khusuk melanglang. Kami bahagia atas pertemuan malam itu. Yang adalah semoga liqoun ‘adhim bagi kami semua yang hadir. Acara diakhiri dengan bersholawat Hasbunallah bersama, dengan diiringi group KIU. Masbuk khusuk kami bersama kepasrahan pada Allah dan cinta tak terperi pada Rosulallah. Kami bersama memaknai racikan biasa menjadi ketentraman ilmu yang khusuk. Amin. Amiin ya robbal’alamin. Sampai jumpa WK berikutnya di Ponorogo, insyaallah.

Zaky.AD Ponorogo