”Sarunge nyincing.. Kupluke miring.. Awake ceking.. Rokoke nglinting.. Kitabe kuning..”

Seiring dengan menyebarnya ajaran Islam secara massif di Nusantara, khususnya di tanah Jawa pada akhir abad 15, muncullah berbagai kebudayaan baru tengah kehidupan masyarakat. Salah satu aspek yang terdampak oleh perkembangan ajaran Islam adalah dunia pendidikan. Dukuh, ashrama, dan padhepokan sebagai lembaga pendidikan Syiwa-Budha di jaman pra-Islam, secara perlahan digantikan dengan lembaga pendidikan pesantren. Disebut “pesantren” karena lembaga tersebut dihuni oleh para “santri”. Santri berasal dari Bahasa Sansekerta Sashtri yang bararti orang-orang yang mempelajari Sashtra (kitab suci). Namun ada pula yang mengatakan bahwa santri berasal dari bahasa Jawa Cantrik yang berarti orang-orang yang mengabdi kepada orang suci (Ulama).


Baca selengkapnya


"Maaf memaafkan itu setiap saat, sepanjang waktu, di dunia sampai akhirat, setiap hari adalah idul fitri bagi kita, tidak ada hari dimana kita tidak memaafkan di antara kita" - Emha Ainun Nadjib

Waro' Kaprawiran | Halal Bihalal Mbangun Paseduluran | Sabtu Pon, 22 Juli 2017 | Pukul 19.30 WIB | Pondok Pesantren Subulun Najah, Dsn. Ngasinan, Ds. Kedungpanji, Kec. Lembeyan, Kab. Magetan. #WKJuli


Jika hakikat hidup manusia adalah mengelola hawa nafsu sesuai dengan batasan-batasan syariat, maka pada prinsipnya manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berpuasa seumur hidupnya. Namun puasa yang dimaksud bukan puasa dalam konteks Rukun Islam, melainkan puasa terhadap hal-hal yang harus ditangguhkan bahkan ditinggalkan.

Misalnya, sesuai sunnatullah manusia harus mendapatkan asupan makanan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tapi di sisi lain manusia juga diharuskan puasa dari makanan yang diharamkan ataupun makanan yang bukan haknya. Manusia pun di takdirkan untuk bereproduksi untuk melestarikan generasinya, nanum manusia juga diwajibkan berpuasa untuk melakukannya dengan pasangan yang tidak dibenarkan secara syariat agama. Masih banyak lagi contoh serupa yang bisa kita gali sendiri dari kehidupan di sekitar kita sehari-hari.


Baca selengkapnya


Hidup ini bagaikan lingkaran karena kita melihat kehidupan ini adalah laksana sebuah perjalanan, perjalanan di mulai dari sebuah tempat dan berakhir di tempat yag sama. Tegasnya adalah kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah,dahulu kita tidak ada di dunia dan kita juga akan menjadi tidak ada lagi. Alhamdulillah edisi bulanan Waro’ Kaprawiran juga diperjalankan dan bulan ini tiba di Kota Madiun, tepatnya Sabtu, 20 Mei 2017 di SMK Nusantara, Balerejo Kab.Madiun.

Belajar dari perjalanan di tiap kota kemarin bagaimana kita memulai dari proses introspeksi diri terkait keruwetan, carut marut kehidupan, dengan bertanya,”apa salah kita,. atau apa yang kurang dari kita, ….

Setelah terindentifikasi, kemudian kita mulai “ndandani njero omah” dengan ngrumat dan ngeruwat. Perbaikan itu selalu dimulai dari diri kita dan meluas ke keluarga dan masyarakat, dengan ditandai dengan keberanian untuk babat, membuka lahan baru, bibit, menyemai kebaikan-kebaikan sehingga kita akan menuai sebuah hasil/bobot yang baik kelak,. 


Baca selengkapnya


Maha Suci Allah dari segala kebatilan yang dikandung oleh perkataanku. Maha Agung Ia dari segala kotoran yang termuat oleh ucapanku.
Segala yang selain Ia, hanyalah keniscayaan yang tidak niscaya. Allah mengungkapkan cinta dengan memancarkan cahaya. Cahaya yang Ia cintai dan Ia puji. Segala yang diciptakan hanyalah bagian dan kelanjutan dari yang menciptakan. Dan segala yang diciptakan oleh Allah hanyalah bagian dari Maha Diri-Nya sendiri, serta merupakan wujud ungkapan dari kemauan-Nya sendiri untuk menciptakan dan menyelenggarakan.
Kondisi ibu pertiwi pada era sekarang sudah dalam kategori sakit sakitan, di mana korupsi dan sistem kepemerintahan yang semakin tidak berpihak pada rakyat kecil, hingga moral dan akhlak materialisme sudah menjadi budaya dimasyarakat pada umumnya
Dengan kondisi demikian tidak semudah itu kita bisa memperbaiki bangsa ini yang sedemikian sakitnya, siapapun pemimpinya tidak akan sangup memperbaiki problema bangsa ini dalam jangka pendek, memang harus teradi regulasi total dari atas sampai bawah dan juga perubahan sistem kenegaraan.


Baca selengkapnya


Jika orang jawa mengidentifikasi kebutuhan primer manusia menjadi 3 hal : Sandang, pangan dan Papan sebagai hal  berurutan secara hierarkis yang diawali bahwa orang harus nyandang dulu, (meski dengan perut lapar), baru mencari karunia Tuhan di muka bumi ini untuk kemudian memiliki rumah hunian tetap "omah".

"Omah"(Rumah) sebagai tempat singgah segera harus kita wujudkan setelah kebutuhan sandang lan pangan kita bisa atasi pemenuhannya. Ia menempati urutan ketiga karena memang bisa ditangguhkan untuk sementara waktu atau bahkan untuk waktu yang agak lama. Namun tetap saja ia merupakan kebutuh pokok yang  tidak bisa ditawar pemenuhannya kelak.

Omah sebagai hunian dan tempat bernaung seluruh anggota keluarga memiliki fungsi yang tidak terbatas bagaimana ia bisa menampung anggota keluarga dan tempat berlindung dari terik matahari dan guyuran hujan saat ia menerpa. Dari sanalah segala yang berkaitan dengan peradaban manusia dimulai dan berpijak. Sepasang suami-istri menyusun rencana, meneguhkan cita cita,meruwat asa untuk terus bertahan ditengah amuk badai tantangan dalam kehidupan, atau bahkan berdiskusi dalam menggapai mimpi paling tinggi bagi anak anak mereka kelak. Di rumahlah tempatnya.

Ia merupakan tempat bermula segala hal namun sekaligus tempat kembali segala sesuatu dimana segala penat dan dan keletihan jiwa dalam meladeni ambisi duniawi bisa diurai kembali.

Saat tertentu Rasul bersabda " Baitii Jannatii" Rumahku adalah Surgaku, suatu isyarat berharga dari manusia pilihan akan urgensi rumah dalam kehidupan umatnya. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa menjadikan rumah kita sebagai surga kita? Apakah ketika kita mampu membangunnya fisikly dengan megah dan menyediakan segala perabotan mahal semua didalamnya? Apakah juga keluasan rumah yang akan menjanjikan tempat istirah yang nyaman bagi anggotanya segingga layak dikatakan sebagai surga?


Baca selengkapnya


"Rasulullah SAW tidak bisa mengatasi tantangan di Mekkah, Maka beliau berhijrah di ke Madinah, Kita tidak mampu mengatasi masalah di negeri ini, maka kita berhijarah ke Maiyah." Daur 18 - Hijrah Maiyah

 

Jika melihat situasi yang sekarang ini, semakin ruwet saja masalah yang terjadi disekitar kita dan disegala bidang di Negara ini, apalagi melihat berita baik di televisi, media cetak atau online, internet dan terutama di media social. Sudah diketahui bersama, diera informasi sekarang ini derasnya arus informasi hampir tidak bisa dibendung lagi. Semua orang bebas berpendapat dan beropini, semua bisa menjadi wasit, hakim, sampai malaikat atau bahkan Tuhan. Saling memposting kebenaran masing-masing demi mencari siapa yang benar, sedangkan pada hakikatnya yang perlu dicari adalah apa yang benar.

 

Sebagai masyarakat yang memahami cinta sebagai kata kerja (bukan kata sifat) akan terus berusaha menghadapi keruwetan itu bukan malah lari darinya. Caranya dengan kita Rumat(menjaga), Rawat(merawat) sampai me-Ruwat(mengurai) semampu kita. Pada prinsipnya gampang, kalau tidak bisa mengurai keruwetan itu, kita tidak akan menambahi keruwetan itu. Kesannya memang kita menarik diri(mundur) tapi sebenarnya kita sedang menempa diri, menguatkan diri jika sewaktu-waktu dibutuhkan kita mampu menyelesaikannya dengan baik, dimulai dari lingkungan terdekat kita sendiri. Seperti dongkrat mobil, yang selalu setia di bagasi, hanya digunakan jika ban mobil bocor, tapi dongkrak mobil itu selalu siap jika sewaktu-waktu digunakan.


Baca selengkapnya


“Adalah suatu kenyataan di dunia ini yang ditakuti ada dua, Yaitu Islam dan Indonesia. Karena Islam itu benar, maka Islam difitnah, dijelekkan, dan umatnya di adu domba. Sedang Indonesia adalah bangsa yang unggul, bangsa nusantara, bangsa yang tua, diapakan seperti apapun tetap tangguh, dan sumber daya alamnya luar biasa. Karenanya dunia sangat bergantung padanya.”

“Karena Islam benar dan Indonesia bangsa besar, maka perlu dibikin dan direkayasa agar Umat Islam dan Indonesia  ‘congkrah’ (tidak harmonis, berbenturan-red) “ ujar Cak Nun saat mengisi Tausiyah di Kusumodilagan, Joyosuran, Solo (13/5/2015) seakan menemukan titik ledaknya pada bulan ini.

Umat Islam hari ini menghadapi sebuah skenario besar yang melibatkan persekongkolan internasional yang bekerja keras agar Islam dan Indonesia hancur. Mereka tidak ingin adanya persatuan umat , Ummatan Wahidah di Indonesia. Bagi mereka , Islam tidak boleh merasuki negara, Indonesia boleh maju dan berkembang dengan syarat harus menjadi negara sekuler.

Peristiwa Aksi Damai 411 yang lalu adalah sebuah momentum, rakaat awal bagi terwujudnya ‘peseduluran’ muslimin di Indonesia, berbagai elemen umat dari berbagai macam background hadir saat itu.  Namun tentunya ‘peseduluran’ yang akan terbentuk nanti tentunya harus memiliki pijakan, sementara pijakan-pijakan itu diantaranya adalah:

Ketulusan  dan memurnikan niat untuk tidak memiliki peran apapun di negeri ini, selain peran-peran yang diberikan oleh Allah SWT kepada tiap orang, “Innashalaati wanusukii wamahyayaa wamamatii lillahi rabbil ‘alamin”. Setiap ormas, parpol, siapapun yang ingin satu barisan dalam amal ini harus ber’ihram’ melepas atribut apapun yang melekat padanya. Karena sesungguhnya sebuah keangkara murkaan, keserakahan, nafsu politik akan tunduk pada benih-benih kebaikan yang kita riyadhohi dengan amal ibadah dan amal kebaikan kepada manusia serta alam semesta ini, ‘Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti


Baca selengkapnya


Memancar ke tanahku cahayamu
Menyapu kegelapan itu
Setelah derita yang tak menentu
Membayang kembali sinar wajahmu
Tergambar di langit yang biru
Sirnalah duka lara di hatiku
Cukuplah airmata dilelehkan
Jangan lagi darah dikucurkan
Berhentilah membangun kebodohan
Hadirlah matahari masa depan
Berakhirlah kesengsaraan
Pagi hari yang cerah menggantikan
Bangun kembali dari kematian
Belajar lagi pada kehidupan
Temukan nama putra masa depan 
Jangan teruskan nasib yang malang

Bait diatas adalah lirik lagu Putra Masa Depan yang sering dibawakan Gamelan Kiai Kanjeng mendampingi Cak Nun dalam berbagai pementasan di berbagai daerah. Seakan mewakili keinginan bangkitnya para pemuda dari keadaan yang penuh pembodohan-pembodohan yang sedang marak di negeri ini.

Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu mempunyai peran strategis di setiap peristiwa penting. Di era milenial ini pun, fakta membuktikan Indonesia selamat dari badai krisis ekonomi internasional tahun 2008-2009, karena pondasi ekonomi kita ditopang oleh sektor UMKM yang sebagian besar dikelola oleh para pemuda yang tahan banting dan pantang menyerah.


Baca selengkapnya

Page 2 of 4