Hidup ini bagaikan lingkaran karena kita melihat kehidupan ini adalah laksana sebuah perjalanan, perjalanan di mulai dari sebuah tempat dan berakhir di tempat yag sama. Tegasnya adalah kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah,dahulu kita tidak ada di dunia dan kita juga akan menjadi tidak ada lagi. Alhamdulillah edisi bulanan Waro’ Kaprawiran juga diperjalankan dan bulan ini tiba di Kota Madiun, tepatnya Sabtu, 20 Mei 2017 di SMK Nusantara, Balerejo Kab.Madiun.

Belajar dari perjalanan di tiap kota kemarin bagaimana kita memulai dari proses introspeksi diri terkait keruwetan, carut marut kehidupan, dengan bertanya,”apa salah kita,. atau apa yang kurang dari kita, ….

Setelah terindentifikasi, kemudian kita mulai “ndandani njero omah” dengan ngrumat dan ngeruwat. Perbaikan itu selalu dimulai dari diri kita dan meluas ke keluarga dan masyarakat, dengan ditandai dengan keberanian untuk babat, membuka lahan baru, bibit, menyemai kebaikan-kebaikan sehingga kita akan menuai sebuah hasil/bobot yang baik kelak,. 

Itulah lingkaran kehidupan kita, akan senantiasa berputar dari titik satu ke titik yang lain. Terkadang kita merasa sudah berjalan, atau diperjalankan, kita berpikir akan sampai masanya kita tiba atau menjadi seorang hamba Allah yang diharapkanNya, dan tidak menyadari bahwa kita hanya berputar di titik yang sama walaupun tetap ada peningkatan kualitas diri.

Namun, Allah itu Tuhan Yang Maha Asik, tidak akan tega melihat hambaNya seperti itu, sehingga turunlah ujian. Ibarat sekolah, maka lingkaran yang kita ada didalamnya ini adalah kelas. Untuk naik kelas, atau bergeser ke lingkaran yang lebih besar diperlukan ujian, sehingga kita mampu menaiki tangga-tangga penghambaan kepadaNya.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS.Al Ankabut:2) Sebuah janji, menuntut adanya ujian, agar terlihat mana yang benar benar memegang teguh janjinya, maka diperlukan sebuah kesadaran diri untuk istiqomah.

Kesadaran untuk senantiasa bercermin,” apa salah kita,…apa yang kurang dari kita… apa yang harus kita lakukan…” membuat kita tahu ini sebuah hukuman, atau peringatan, dan atau ujian dari Allah. Sehingga terkadang ujian itu tidak serta merta Allah turunkan, dan paksakan dengan berbagai skenario dan designnya. Tetapi Allah hamparkan didepan kita, momentum, dan peluang ujian itu. Tinggal kita mau mengambilnya atau tidak.

Itu juga yang dilakukan para pendiri bangsa ini, 109 tahun yang lalu. Momentum kebangkitan nasional diambil dengan mengawali semangat perjuangan intelektual melalui pembentukan organisasi untuk membangun kebersamaan dan persatuan antar elemen bangsa. Proses perjuangan mereka yang dilanjutkan oleh para pejuang lain telah berhasil melewati ujian – ujian perjuangan sehingga menghasilkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita kenal sekarang ini.

Salah satu momentum naik kelas terdekat  adalah datangnya bulan Ramadhan yang tinggal hitungan hari menghampiri kita. Siap ujian?

Peluang dan momentum lain tentunya banyak dihadirkan Allah kalau kita senantiasa mengasah rumus bercermin yang diberikan Caknun diatas. Akhirnya selamat menempuh ujian, selamat menjemput janji, dengan persiapan dan mindset baru bahwa ujian itu asik. Semoga sukses!