Tumbuh merupakan proses berkesinambungan yang terjadi sejak organisme itu dipersiapkan kehadirannya dan terus berlangsung sampai akhir. Semua proses pertumbuhan  yang terjadi haruslah melalui proses yang bertahap dan fokus pada potensi-potensi yang bisa membawa pada kesinambungan jangka panjang.  

Sehingga sebagai sebuah organisme maiyah, Waro’ Kaprawiran haruslah tumbuh dan berkembang melebihi umur para ⁠⁠⁠penggiat dan jama’ahnya. Maka diperlukan inventarisasi potensi dan peran yang menjadi ruh dari perjalanan maiyah. Di sinilah perlu adanya evaluasi, perencanaan dan perbaikan. Evaluasi untuk menakar di mana posisi kita, sehingga bisa merencanakan untuk berada pada posisi yang menjadi target kita kedepan sesuai potensi dan peran yang kita ambil dan terus melakukan perbaikan dalam prosesnya.

Cak Nun pernah memilah kondisi manusia sebagai satuan dari entitas organisme maiyah sesuai dengan nilai kebermanfaatan dirinya bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, Khairunnas anfa’uhum linnas, "Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim). Dari hadits tersebut, Cak Nun meminta kita mengevaluasi seberapa manfaat kehadiran kita di masyarakat,  apakah kita ini manusia wajib, sunah, mubah, makruh, atau malah manusia haram?

Tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini. Apakah masyarakat mendapatkan kebaikan dengan kehadiran kita? Untuk bisa mengevaluasinya perlu adanya pemahaman yang sama tentang apa itu kebaikan. Cak Nun sendiri juga pernah mengumpulkan penyebutan kebaikan dalam Al-Quran yang di antaranya khoir, ma’ruf, ihsan, sholeh, serta birr atau mabrur. Semuanya berarti kebaikan, tetapi dalam konteks yang berbeda-beda.

Dari dua nilai di atas, kebermanfaatan dan kebaikan maka kita bisa mengukur berada pada kondisi apa diri kita, sesuai standar yang seharusnya, meningkat diatasnya ataukah terjerembab di bawah standar.

Masyarakat Indonesia saat ini berada pada kondisi jauh dari standar nilai yang diharapkan, sehingga ketika ada yang melakukan hal yang sesuai standar, maka akan dikagumi atau bahkan dielu-elukan. Padahal hal tersebut sudah menjadi tugas serta kewajiban dia. Sebagai contoh, program kesejahteraan pemerintah, itu adalah hak warga Indonesia dan pemerintah wajib mencanangkannya, tapi yang terjadi menjadi bahan pencitraan bahkan kampanye seorang pejabat, padahal dananya juga berasal dari APBN atau APBD yang notabennya adalah uang rakyat. 

Sekarang ini terlihat sangat aneh, ketika ada orang atau organisasi yang menolak gratifikasi atau korupsi, di lingkungannya dia dianggap gila, ra umum padahal pencapaian mereka sesuai standar  yang merupakan seharusnya.

Ketika orang tahu cara berfikir dengan logika-logika terbalik, apakah lantas semuanya bisa diakali?  Tentunya kita punya dasar-dasar berfikir, olah rasa, dan akhlak yang jelas. Kenapa masih saja bermain-main dengan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilanggar hanya untuk memenuhi ambisi pribadi, namun dibungkus kepentingan rakyat. Mari kita benahi software kita yang bermasalah ini, sehingga dalam melakukan evaluasi kita bisa tegas, terhadap sesuatu yang harus ditegaskan. Kita menimbang untuk sesuatu yang perlu ditimbang atau ditoleransi. Jangan dicampur-adukkan sehingga kita mengetahui jelas posisi kita saat ini.

Dengan mengetahui kondisi saat ini, saatnya kita rencanakan. Mau jadi seperti apa? Dan peran apa yang akan kita lakukan untuk masa depan. Sehingga jelas pula kemana kita akan kembali.

"Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, 'hendaklah kamu menjadi penyembahku, bukan penyembah Allah'. Akan tetapi (dia berkata), 'hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS Al Imran - 79)

Semangat Rabbaniyun, Belajar, Beramal, dan Mengajarkannya.

Sebagai contoh,  jika anda seorang guru, akankah berhenti "hanya" sebagai guru saja? Seorang petani yang seperti apa sih "idealnya" ? Wirausaha yang bagaimana yang "sukses" itu? 

Tentunya kita akan terus "belajar", dimulai dari iqra' terhadap ayat dan alam sehingga terkumpul informasi, data dan terseraplah ilmu sehingga kita bisa mengambil sari pati dan hikmah atau kearifan dari yang kita lihat tadi. "Beramal", diawali dari ilmu, niat yang ikhlas dan senantiasa istiqomah menjalaninya dari proses (syariat) sehingga ketemu jalan (tareqat) untuk menuju hakekat serta ma’rifatNya. Dan akhirnya perubahan akan terjadi apabila kebiasaan ini dilakukan dalam skala peradaban, yang artinya dilakukan oleh banyak orang, di rentang waktu yang lama sehingga menjadi karakter, budaya masyarakat tersebut. Sehingga sangat diperlukan orang-orang yang mau bersedekah baik tenaga, waktu, harta bahkan jiwanya untuk mengajarkannya. Inilah peran kecil yang akan diambil oleh Waro’ Kaprawiran. Tentunya akan banyak masukan dan ilmu terbagi bila kita semua bisa hadir, berdiskusi dalam kemesraan maiyah Waro’ Kaprawiran pada hari Jum'at Pon, 30 September 2016 pukul 20.00 WIB di halaman SMK Nusantara, Balerejo, Madiun.

Senantiasa untuk bisa rumongso, siapa diri kita? Dan terus menebar kebermanfaatan bagi alam semesta adalah kunci untuk bisa Tumbuh Berkesinambungan sehingga siapapun yang menjalankan Waro’ Kaprawiran atau entitas apapun itu siap menjawab tantangan sesuai  zamannya.