Memancar ke tanahku cahayamu
Menyapu kegelapan itu
Setelah derita yang tak menentu
Membayang kembali sinar wajahmu
Tergambar di langit yang biru
Sirnalah duka lara di hatiku
Cukuplah airmata dilelehkan
Jangan lagi darah dikucurkan
Berhentilah membangun kebodohan
Hadirlah matahari masa depan
Berakhirlah kesengsaraan
Pagi hari yang cerah menggantikan
Bangun kembali dari kematian
Belajar lagi pada kehidupan
Temukan nama putra masa depan 
Jangan teruskan nasib yang malang

Bait diatas adalah lirik lagu Putra Masa Depan yang sering dibawakan Gamelan Kiai Kanjeng mendampingi Cak Nun dalam berbagai pementasan di berbagai daerah. Seakan mewakili keinginan bangkitnya para pemuda dari keadaan yang penuh pembodohan-pembodohan yang sedang marak di negeri ini.

Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu mempunyai peran strategis di setiap peristiwa penting. Di era milenial ini pun, fakta membuktikan Indonesia selamat dari badai krisis ekonomi internasional tahun 2008-2009, karena pondasi ekonomi kita ditopang oleh sektor UMKM yang sebagian besar dikelola oleh para pemuda yang tahan banting dan pantang menyerah.

Siapakah sebenarnya pemuda baik ditinjau dari fisik maupun psikisnya, atau dilihat dari semangat dan usianya?. Rilis terbaru WHO menggolongkan pemuda adalah mereka yang berada dalam rentang usia 18 – 65 tahun.

Jelaslah pemuda tidak dilihat dari usianya melainkan dari semangatnya. Mereka yang aktif, produktif, kreatif, penuh semangat, penuh prestasi, tidak pantang menyerah, dan berakhlak mulia bisa tergolong pemuda.

Dalam khasanah Islam dan bahasa Arab, makna kata pemuda terangkum kata As Syabab, At Thulabi, Ashabul, dan  ArRijal.

As-Syabâb,  sejatinya merujuk pada sosok muda secara fisik, badannya segar-bugar, tenaganya besar, tekad dan kemauannya kuat.

At-Thulab, maknanya semangatnya membara, harapan dan cita-citanya menjulang tinggi. Adanya sebuah keinginan untuk "mencari/ rasa ingin tahu/ solutif" dengan disertai segenap sikap keikhlasan, ketawadhuan, kematangan, dan kesungguh-sungguhan budi pekerti.

Ashabul, memiliki makna sekumpulan, kelompok pemuda. Ciri khas anak muda adalah berkumpul, berkomunitas, memiliki solidaritas bersama, senasib/sepenanggungan.

Ar-Rijal bentuk plural yang berasal dari suku kata Rajul  yang laki-laki  sebagai jenis dan kadang juga berarti kata sifat; kejantanan dan  keberanian atau kepahlawanan. Sehingga secara makna ar-Rijal adalah qiamu linafsih wa yuqimu lighairih (dia hidup untuk dirinya sendiri dan hidup bagi orang lain).

Sekilas catatan di atas cukuplah menjadi pembuka diskusi kita di Majelis Masyarakat Maiyah, Waro’ Kaprawiran yang akan tersaji Sabtu, 29 Oktober 2016 pukul.20.00- selesai di SMK Nusantara, Balerejo, Madiun. Sehingga apa yang dirasakan Cak Nun setiap hadir dan berkeliling ke setiap simpul – simpul maiyah itu benar adanya.

Saya gembira dan optimis hampir tiap malam di berbagai wilayah saya berjumpa dengan ribuan anak-anak muda yang berjuang menyembuhkan kebutaan hidupnya. Penduduk Indonesia sekarang rata-rata usianya adalah 27,5 tahun. Dan yang saya jumpai sejauh saya berkeliling ke pelosok-pelosok sejak hari kedua Suharto jatuh, adalah para pemuda usia tersebut dengan sorot mata yang aneh.

Aneh karena muatan orisinalitasnya. Mereka tidak hancur oleh ketidak-menentuan keadaan negaranya. Mereka tidak semena-mena bisa dicuci otak dan mentalnya oleh industri disinformasi dan peradaban hiburan kekonyolan. Anak-anak muda Nusantara sedang mempersiapkan kebangkitannya. Ada gerakan 1 juta petani muda, ada eksperimentasi-eksperimentasi keIndonesiaan di segala bidang. Pelan-pelan tapi pasti akan lahir kaum muda visioner dan expert, dengan atau tanpa profesionalisme kependidikan. Nutrisinya meningkat, daya akuntansinya makin tajam, ‘militerisme atas diri sendiri’ atau kedisiplinan dan kesungguhannya lahir serius, di dunia maya mereka juga sangat mengincar supremasi. Bahkan sejarah hari esok Indonesia tidak bisa mengelak dari pemikiran-pemikiran baru kaum muda untuk mentransformasikan ketatanegaraan NKRI dan men-saleh-kan konstitusi dan hukumnya.

caknun.com : Kaum muda masa depan bangsa (2012)

Intuisi Cak Nun pada 2012 di atas akan menemukan jawaban pada 2020 kelak. Diperkirakan empat tahun kedepan, Indonesia akan mengalami  "bonus demografi", di mana jumlah pemuda akan mendominasi (±70%) keseluruhan populasi penduduk Indonesia. Hal ini adalah senjata bagi Bangsa Indonesia untuk memajukan ekonomi , pendidikan, kebudayaan, dan berbagai sektor lainnya.

Sayangnya kesadaran ini belum sepenuhnya menjadi prioritas Pemerintah saat ini. Sebagai contoh masih terjadinya ketimpangan di sektor ekonomi. Para pemuda yang berjuang di sektor mikro, yang menjadi pondasi penting kekuatan ekonomi bangsa masih sangat tercekik dengan kebijakan pemerintah yang  lebih berfokus pada kebutuhan taipan-taipan besar. Kegaduhan politik, dan drama penegakan hukum semakin memecah belah anak bangsa, aparat dan media menjadi alat penguasa untuk menjatuhkan lawan politik dan mengalihkan perhatian kita.

Belum lagi dari intern pemuda itu sendiri. Saat ini pemuda banyak yang "masuk angin" atas cekokan berbagai informasi yang sudah diwolak walik sedemikian rupa sehingga apa yang disajikan jauh dari kenyataan. Belakangan marak para pemuda mengidolakan sosok yang mereka sebut "selebgram" yang segala tindak tanduk seleb tersebut mereka tiru, yang notabene perilaku mereka belum memenuhi kaidah baik, benar, dan indah.

Akibatnya, saat ini pemuda yang seharusnya menjadi tumpuan dan harapan bangsa sebagian besar justru menjadi "masalah" bagi negeri. Kurangnya rasa hormat pada orang tua, kurangnya empati terhadap sesama, egoisme yang tinggi diikuti keinginan untuk menjadi yang paling benar justru banyak diidap oleh para pemuda era sekarang.

Sumpah, Kami Pemuda. Adalah tekad kami Waro’ Kaprawiran yang lahir dari sebuah kesadaran untuk senantiasa berkomitmen aktif, produktif, kreatif, penuh semangat, tidak pantang menyerah, berakhlak mulia, menjadi perwira yang sholeh berapapun usia kami kelak, kami akan hidup bukan saja untuk diri kami, namun berusaha untuk hidup bagi orang lain. Mari bersama, kita satukan tekad, satukan ikatan, satukan langkah untuk menyambut janji, dan mengukir sejarah hari ini, dan esok nanti.