”Sarunge nyincing.. Kupluke miring.. Awake ceking.. Rokoke nglinting.. Kitabe kuning..”

Seiring dengan menyebarnya ajaran Islam secara massif di Nusantara, khususnya di tanah Jawa pada akhir abad 15, muncullah berbagai kebudayaan baru tengah kehidupan masyarakat. Salah satu aspek yang terdampak oleh perkembangan ajaran Islam adalah dunia pendidikan. Dukuh, ashrama, dan padhepokan sebagai lembaga pendidikan Syiwa-Budha di jaman pra-Islam, secara perlahan digantikan dengan lembaga pendidikan pesantren. Disebut “pesantren” karena lembaga tersebut dihuni oleh para “santri”. Santri berasal dari Bahasa Sansekerta Sashtri yang bararti orang-orang yang mempelajari Sashtra (kitab suci). Namun ada pula yang mengatakan bahwa santri berasal dari bahasa Jawa Cantrik yang berarti orang-orang yang mengabdi kepada orang suci (Ulama).

 Dalam perjalanannya, budaya pesantren dan santri terus mengalami perkembangan secara definisi dan sudut pandang sesuai dengan jamannya. Dahulu, seseorang disebut santri apabila ia sedang aktif menuntut ilmu di pesantren. Lalu sebutan santri berkembang tidak hanya untuk menyebut seseorang yang sedang belajar di pesantren saja, namun juga untuk orang yang pernah belajar di pesantren, walaupun ia telah selesai dalam proses belajarnya. Kemudian sebutan santri mengalami perkembangan lagi secara konotatif, yakni untuk mengidentifikasi golongan orang yang bergaya hidup agamis (Islam), sebagaimana yang ditulis oleh Clifford Geertz (1981) di dalam bukunya yang berjudul Abangan-Santri-Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Dari berbagai definisi dan sudut pandang yang berkembang tersebut, kita dapat mengambil sebuah intisari bahwa santri adalah jiwa (Spirit), bukan sekedar identitas. Yakni jiwa yang memiliki ke-saleh-an, baik saleh secara ritual (Islam) maupun saleh secara sosial.

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak ada beberapa orang dari tiap-tiap golongan di antara mereka yang (menetap di tempat tinggalnya) untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang ilmu agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada kaum mereka itu? Semoga mereka itu takut (untuk menentang perintah Allah).” (Qs. At-Taubah :122)

Melalui ayat ini sudah sangat jelas Allah menegaskan, bagi siapapun yang berjiwa santri harus senantiasa “berbagi tugas”. Sebagian diantara mereka ada yang tekun mendalami ilmu agama dengan sangat serius. Mereka ini yang biasanya diidentikkan dengan istilah ”Sarunge nyincing.. Kupluke miring.. Awake ceking.. Rokoke nglinting.. Kitabe kuning..”. Namun dibalik penampilannya yang sederhana, mereka merupakan benteng akidah, penunjuk syariat dan penerang akhlak. Keilmuannya sangat baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Mereka diibaratkan seperti paku, keberadaannya seringkali tak terlihat tapi peranannya sangatlah fital.

Di lain sisi, sebagian santri harus berdiri dari tempat duduknya, menutup kitab-kitabnya, lalu pergi untuk berjihad menebar rahmat Allah di muka bumi. Dan jihad yang paling dibutuhkan masyarakat di jaman seperti sekarang ini bukanlah perang, melainkan jihad di bidang sains, teknologi, manajemen, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Maka kalau santri telah berbagi tugas seperti ini, yang akan terjadi selanjutnya adalah keseimbangan. “Fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah”. Dengan demikian, apapun karya dan perjuangannya, kalau spiritnya adalah ke-saleh-an ritual dan sosial, maka dia adalah seorang santri.

#Santri jaman now.