Peradaban leluhur kita dahulu adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf tinggi dan menyeluruh. Semua bidang dalam masyarakat dapat tersentuh oleh nilai kebudayaan-kebudayaan nenek moyang kita. Saat ini, perkembangan teknologi yang sangat cepat disebut-sebut sebagai tanda tingginya peradaban, bahkan melebihi peradaban nenek moyang kita. Teknologi mutakhir hasil budi daya manusia banyak dibuat dalam rangka memudahkan hidup, menggampangkan urusan, meningkatkan produktifitas dan mempercepat kerja manusia.

Kemajuan yang sangat cepat dalam semua bidang, menuntut masyarakat mau tidak mau bisa mengikutinya. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat sekarang ingin mendapatkan suatu hal dengan cara yang instan pula. Mulai dari bidang politik sampai dibidang keagamaan. Ingin mendapatkan pemimpin yang beneran dengan cara yang instan, Sudah kita ketahui bersama, sekarang ini banyak orang yang ditokoh­-tokohkan hanya karena prestasi instan pula dan tanpa latar belakang. Pun dibidang makanan muncul banyak restoran cepat saji dan toko-toko yang menjual makanan instan. Dalam dunia pendidikan juga ada yang namanya program akselerasi (percepatan waktu tempuh pendidikan). Untuk menilai kelulusannya pun hanya dengan ujian yang dilangsungkan selama tiga hari. Bahkan yang marak sekarang ini dalam bidang agama, diam-diam ada penawaran cara cepat masuk surga.

Kebudayaan leluhur kita dahulu, untuk memasak nasi saja perlu dua sampai tiga kali proses, mulai dari membersihkan beras (mususi), memasak pakai panci (ngaru), kemudian baru ditanak menggunakan kukusan (ngedang). Dengan banyak dan lamanya proses itu, nasi yang dihasilkan jelas jauh lebih enak dan sehat dibanding dengan nasi hasil masakan mesin penanak nasi yang saat ini justru lebih banyak digunakan dengan alasan lebih simpel.

Masyarakat modern sekarang ini menganggap proses yang dilakukan mbah-mbah kita dahulu itu kurang efisien. Dianggap ribet dan membutuhkan waktu yang lama dengan hasil yang tidak jauh berbeda.

Generasi sekarang dimanjakan dengan hal yang bisa didapat dengan cepat, banyak alat-alat diciptakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari sehingga dapat selesai dengan mudah dan dengan waktu yang sesingkat mungkin. Semua berpedoman pada efisien, meskipun bila diteliti lebih jauh ada banyak kerugian dengan adanya alat-alat tersebut. Hal utama yang hilang dari penggunaan alat-alat tersebut adalah proses. Kemudahan itu dibayar mahal dengan tidak tahunya generasi saat ini akan proses yang dilakukan.

Dalam dunia pendidikan saat ini, kurikulum yang dibuat menjadikan anak sebagai obyek dan bukan subyek lagi dengan menuntut agar siswa cepat bisa membaca, menulis dan sebagainya. Ibarat anak sudah diajari bisa naik motor tapi tidak diajari terlebih dahulu etika berkendara. Sehingga yang dihasilkan adalah anak yang pandai tapi kurang memiliki etika, adab dan kesabaran. Mengambil contoh saat Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir. Nabi Musa akhirnya tidak lulus karena kurang sabar menerima ilmu yang akan diajarkan.

Leluhur kita sudah memberi wejangan dalam hal proses Ilmu iku kelakone kanti laku (ilmu itu terbukti dengan dilaksanakan). Kalau dalam pepatah arab al ilmu bila ‘amalin kasy-syajari bila tsamarin (ilmu yang tidak dilakukan seperti pohon tanpa buah). Karena dengan laku, amal atau proses ilmu menjadi bermanfaat. Sekarang ini banyak sekali orang yang berilmu tapi tidak menjadi pengetahuan karena tidak dilakukan. Karena hanya dengan dilakukan atau dipraktekkan ilmu itu bermanfaat dan teruji kebenarannya. Kebanyakan generasi sekarang menginginkan hasil secara cepat dan tidak mau berproses, mereka tidak mau melaksanakan ilmunya karena membutuhkan waktu yang lama.
Tidak terasa Waro’ Kaprawiran sudah berumur satu tahun. Belumlah masuk kategori waktu yang lama dan dianggap konsisten. Satu tahun yang tidak dilewati dengan mudah, kami syukuri semua yang telah dilalui. Majelis ilmu Maiyah yang terdiri dari empat kabupaten : Madiun, Ponorogo, Magetan, Ngawi dengan perbedaan wilayah dan sedikit perbedaan kulturnya. Dengan masih banyaknya kekurangan, kami masih ingin berproses dan terus berproses. Di usia satu tahun ini Waro’ Kaprawiran mengangkat tema PERADABAN INSTAN untuk menjadi pengingat bagi kita juga, apakah kita ini termasuk hasil yang instan?

Mari melingkar bersama, bergembira menikmati rasa syukur dalam satu tahun Waro’ Kaprawiran.