“Adalah suatu kenyataan di dunia ini yang ditakuti ada dua, Yaitu Islam dan Indonesia. Karena Islam itu benar, maka Islam difitnah, dijelekkan, dan umatnya di adu domba. Sedang Indonesia adalah bangsa yang unggul, bangsa nusantara, bangsa yang tua, diapakan seperti apapun tetap tangguh, dan sumber daya alamnya luar biasa. Karenanya dunia sangat bergantung padanya.”

“Karena Islam benar dan Indonesia bangsa besar, maka perlu dibikin dan direkayasa agar Umat Islam dan Indonesia  ‘congkrah’ (tidak harmonis, berbenturan-red) “ ujar Cak Nun saat mengisi Tausiyah di Kusumodilagan, Joyosuran, Solo (13/5/2015) seakan menemukan titik ledaknya pada bulan ini.

Umat Islam hari ini menghadapi sebuah skenario besar yang melibatkan persekongkolan internasional yang bekerja keras agar Islam dan Indonesia hancur. Mereka tidak ingin adanya persatuan umat , Ummatan Wahidah di Indonesia. Bagi mereka , Islam tidak boleh merasuki negara, Indonesia boleh maju dan berkembang dengan syarat harus menjadi negara sekuler.

Peristiwa Aksi Damai 411 yang lalu adalah sebuah momentum, rakaat awal bagi terwujudnya ‘peseduluran’ muslimin di Indonesia, berbagai elemen umat dari berbagai macam background hadir saat itu.  Namun tentunya ‘peseduluran’ yang akan terbentuk nanti tentunya harus memiliki pijakan, sementara pijakan-pijakan itu diantaranya adalah:

Ketulusan  dan memurnikan niat untuk tidak memiliki peran apapun di negeri ini, selain peran-peran yang diberikan oleh Allah SWT kepada tiap orang, “Innashalaati wanusukii wamahyayaa wamamatii lillahi rabbil ‘alamin”. Setiap ormas, parpol, siapapun yang ingin satu barisan dalam amal ini harus ber’ihram’ melepas atribut apapun yang melekat padanya. Karena sesungguhnya sebuah keangkara murkaan, keserakahan, nafsu politik akan tunduk pada benih-benih kebaikan yang kita riyadhohi dengan amal ibadah dan amal kebaikan kepada manusia serta alam semesta ini, ‘Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti

Ummat Islam tidak perlu melemahkan dirinya terus menerus dengan khilafiyah dan ikhtilafiyah, apalagi dengan tema-tema furuíyah. Aliran-aliran (produk tafsir) keIslaman tidak bisa mengelak lagi untuk mulai duduk bersama, ber-majlis-fatwa bersama, memandu ummat mereka berhimpun dan bersatu di dalam kebijakan sejarah “wa amruhum syuro bainahum”. Mengkonsisteni keseimbangan berpikir, keadilan sikap, cerdas kapan hitam-putih kapan warna-warni, untuk kemudian bekerjasama/ tolong- menolong dalam hal yang telah disepakati bersama dan saling toleran pada hal-hal yang masih diperselisihkan.

Kaum Muslimin tidak bisa menunda waktu lagi untuk lebih mengislamkan dirinya, sebab itulah modal paling kuat untuk mempertahankan Indonesia. Kaum Muslimin di setiap titik harus menyelenggarakan tahqiqi  keIslaman sampai ke anak-anak dan cucu-cucu mereka. Menyusun tradisi budaya kependidikan: Tadrisul Islam, Ta’limul Islam, Ta’riful Islam, Tarbiyatul Islam hingga tertradisikan Ta`dibul Islam.

Setiap lingkaran Muslimin memastikan adanya paseduluran berupa kelompok diskusi yang berlatih bersama untuk tidak ditimpa kemalasan berpikir, berpuasa dari egosentrisme kelompok, melawan tradisi amarah, atau memasrahkan persoalan-persoalan kepada para pemimpin, padahal pada saat yang sama sesungguhnya mereka tidak benar-benar percaya kepada pemimpin. Serta memastikan bahwa Ummat Islam tidak dipersatukan oleh kebencian bersama kepada pihak yang memusuhi mereka. Melainkan berukhuwah sejati karena iman kepada Allah, cinta kepada Kanjeng Nabi dan penjunjungan kepada AlQur`an yang Allah Sendiripun maha bekerja untuk menjaganya. Sehingga diperoleh suatu gambaran global dari hulu hingga hilir skenario musuh untuk kemudian dicari penawarnya, berupa aksi yang komprehensif, dan terukur.

Empat pijakan awal inilah yang mendasari diskusi panjang kita pada sesi sinau bareng  Majelis Masyarakat Maiyah Waro’ Kaprawiran yang akan dimulai selepas isya besok, Sabtu, 19 November 2016 di Halaman SMK Nusantara, Balerejo Kabupaten Madiun.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi setiap insan yang hadir malam itu untuk menjadi pejuang-pejuang wihdatul ummah, dan taufikNya turun berupa ketetapan takdir yang membersamai rakaat panjang maiyah untuk mengawal dan beramal untuk kesatuan Indonesia. Sebagaimana, tadabur QS. Al Baqarah:148, “Wa likullin wijhatin huwa muwalliha fastabiqul khoirot. 'Aina ma takuunu ya'ti bikumullahu jamii'an. Innallaha 'ala kulli syai-in qadir.”  Cak Nun ketika Sinau bareng di Desa Wirokerten, Bantul (17/05/2015) pernah mentadaburi ayat ini, yang merupakan pondasi, kunci dari Allah untuk strategi persatuan ummat.

“Tidak ada kata umat di situ. Kalau yg dimaksud umat, maka individu tak masuk. Kategori nonumat nggak masuk. Padahal di situ Allah hanya menggunakan likullin bukan likulli ummatin. Hanya likullin. Besar kemungkinan ini merangkum semuanya. Universal. Bagi setiap. Siapa saja.”

Dan sejalan dg konsep input dan output yg dikemukakan Cak Nun selama ini, kalimat selanjutnya adalah 'fastabiqul khoirot', yang sejauh ini diartikan 'maka berlomba-lombalah dalam kebaikan'.

Dalam tadaburnya Cak Nun memberi redaksi lain, “bukan berlomba-lomba”, melainkan setiap orang punya kecenderungan, background,yang berbeda itu tak apa dan wajar, yang terpenting adalah ketika dia keluar atau berhadapan dengan orang lain, yang keluar adalah kebaikan. Itulah kebaikan sebagai output.”

Itulah ayat yang memberikan ilmu mengenai dasar persatuan atau ukhuwah antar manusia, yang selama ini kurang dipahami dalam konteks tersebut, apapun background kita, kiblat madzab, aliran (produk fiqh) kita mari bersatu dalam rakaat panjang ini sehingga output kebaikan umat Islam akan lebih dirasakan oleh Bangsa Indonesia.

Redaksi
Author: Redaksi
Redaktur penulisan website resmi majelis masyarakat maiyah Waro' Kaprawiran