Seorang psikolog besar berkebangsaan Yahudi mengakatan bahwa fitrah manusia adalah sama seperti binatang. Ketika ia melihat makanan ingin langsung menyantapnya, ketika ia melihat perempuan ingin langsung memegangnya, ketika melihat uang ingin langsung mengambilnya dan lain sebagainya. Adapun jika manusia tidak melakukannya, itu dikarenakan hal-hal dari luar dirinya. Hukum, etika, budaya dan agama. Maka, ketika seseorang semakin terikat hidupnya dengan hal-hal dari luar dirinya tersebut, dianggap pada hakikatnya telah menyalahi fitrahnya sebagai manusia yang murni. Gangguan jiwa.

Dalam kesempatan yang lain, seorang Ateis mengatakan bahwa aturan-aturan di dalam agama itu hanya mempermainkan manusia saja. Kita boleh makan dan minum, tapi tidak boleh berlebihan. Kita dianjurkan berpenampilan, tapi tidak boleh membuka aurat. Kita disuruh bekerja keras, tapi diwajibkan membagi hasilnya. Maka menurut mereka agama hanyalah aturan-aturan yang tidak masuk akal, yang disusun secara rapi, dengan janji-janji manis yang maya.

Dan ibadah puasa adalah puncak dari kebodohan tersebut, menurut mereka. Karena puasa adalah satu-satunya perintah wajib di dalam agama yang bersifat menahan/ngempet, ketika perintah-perintah wajib yang lain bersifat melakukan. Banyak hal halal yang menjadi makruh bahkan haram dilakukan ketika seseorang sedang berpuasa. Ini sangat jelas bertentangan dengan fitrahnya sebagai manusia yang sebenarnya sangat "butuh" hal-hal yang dilarang di dalam ibadah puasa tersebut . Makan, minum, berhubungan intim, meluapkan emosi dan lain-lain. Dan secara umum, dalam skala dan kondisi-kondisi tertentu, kita selalu "dipaksa" ngempet bahkan sepanjang hidup kita oleh hal-hal dari luar diri kita. Ini tentu melawan fitrah kita sebagai manusia murni, lagi-lagi jika mengutip pendapat diatas.

Lalu, untuk apa kita masih mau berlelah-lelah Ngempet?