Jika orang jawa mengidentifikasi kebutuhan primer manusia menjadi 3 hal : Sandang, pangan dan Papan sebagai hal  berurutan secara hierarkis yang diawali bahwa orang harus nyandang dulu, (meski dengan perut lapar), baru mencari karunia Tuhan di muka bumi ini untuk kemudian memiliki rumah hunian tetap "omah".

"Omah"(Rumah) sebagai tempat singgah segera harus kita wujudkan setelah kebutuhan sandang lan pangan kita bisa atasi pemenuhannya. Ia menempati urutan ketiga karena memang bisa ditangguhkan untuk sementara waktu atau bahkan untuk waktu yang agak lama. Namun tetap saja ia merupakan kebutuh pokok yang  tidak bisa ditawar pemenuhannya kelak.

Omah sebagai hunian dan tempat bernaung seluruh anggota keluarga memiliki fungsi yang tidak terbatas bagaimana ia bisa menampung anggota keluarga dan tempat berlindung dari terik matahari dan guyuran hujan saat ia menerpa. Dari sanalah segala yang berkaitan dengan peradaban manusia dimulai dan berpijak. Sepasang suami-istri menyusun rencana, meneguhkan cita cita,meruwat asa untuk terus bertahan ditengah amuk badai tantangan dalam kehidupan, atau bahkan berdiskusi dalam menggapai mimpi paling tinggi bagi anak anak mereka kelak. Di rumahlah tempatnya.

Ia merupakan tempat bermula segala hal namun sekaligus tempat kembali segala sesuatu dimana segala penat dan dan keletihan jiwa dalam meladeni ambisi duniawi bisa diurai kembali.

Saat tertentu Rasul bersabda " Baitii Jannatii" Rumahku adalah Surgaku, suatu isyarat berharga dari manusia pilihan akan urgensi rumah dalam kehidupan umatnya. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa menjadikan rumah kita sebagai surga kita? Apakah ketika kita mampu membangunnya fisikly dengan megah dan menyediakan segala perabotan mahal semua didalamnya? Apakah juga keluasan rumah yang akan menjanjikan tempat istirah yang nyaman bagi anggotanya segingga layak dikatakan sebagai surga?

Jika mengacu kepada kemegahan rumah,keluasan tempat, mahalnya perabotan, sementara pada saat yang sama kita tidak bisa merasa tenang, tenteram dan nyaman karena banyak hal yang sering terjadi dalam rumah yang membuat hati dan pikiran tidak tenang, berarti rumah bukan sebatas pada wujud bangunan an sich, namun  juga mencakup keadaan, situasi, intensitas interaksi serta meliputi apapun .yang terjadi di dalam rumahlah yang bisa menjelma menjadi surga ataupun sebaliknya.

Berapa banyak kenyataan yang disuguhkan bahwa rumah megah tidak sepenuhnya bisa menjanjikan ketenteraman, Mahalnya perabot tidak bisa memberi jaminan kenyamanan bagi para penghuninya, dan keluasan lahan bangunan tidak memberi ketenangan saat peristirahatan. Bahkan tak jarang Kemewahan seringkali menjerumuskan, dan Kecukupan dalam banyak hal hanya  akan membutakan, tidak pernah mengasah bahkan menumpulkan clurit batin kemanusiaan kita.

Kita sudah punya rumah, perabot  rumah kita sudah ada, meski beberapa masih ala kadarnya, tapi semua yang menjadi kebutuhan dasar kita berumah tangga tersedia begitu lengkapnya tanpa ada yang kurang, hanya saja terlihat kurang terawat karena berbagai kesibukan kita dalam berbagai hal yang merampok kesadaran kita akan pentingnya rumah sebagai tempat kembali sehabis pulang kerja. Atau karena kita selaku penghuni rumah tidak pernah membagi tugas untuk secara bersama-sama merawat rumah kita.

Mari sadari bersama bahwa rumah kita berada dan berdiri diatas keluasan lahan yang sangat cukup untuk menampung semua anggota keluarga, Halaman luas terhampar sebagai tempat bermain anak anak kita untuk mereka bisa tumbauh dan berkembang dengan sebaik mungkin, Kebun belakang rumah bisa kita manfaatkan untuk kita tanami beberapa pohon yang bisa kita terus petik buahnya.

Mari benahi bersama rumah kita, kita manfaatkan sebaik baiknya perabotan yang telah ada, kita sapu lantainya, kita bersihkan langit langitnya, kita benahi satu dua genting yang bocor di bagian belakang, kita bagi tugas untuk senantiasa bisa menjadikan rumah ini menjadi tempat hunian idaman bagi setiap penghuninya, atau bahkan tetangga kita sempat iri saat melihat kita para penghuni rumah ini saling asah-asih-asuh dalam berumah tangga dan dapat menjalankan fungsi sebagai anggota keluarga dengan sempurna.

Cukupkah dengan membersihkan pekarangan dan lantai serta menata rias setiap sudut rumah akan menjadikan rumah kita sebagai "'jannatii"

Ternyata Belumlah cukup dengan hal diatas rumah kita ini bisa menjadi surga, karena meskipun ia penting ia adalah tempat dimana setiap komunikasi, jalinan, peluk mesra, canda tawa dan aktifitas saling menyorgakan antar para penghuninya terjadi : Suami yang selalu mau bertanggung jawab nafkah lahir batin bagi semua anggota, berlaku sebagai imam yang menahkodai kapal rumah tangga, ibu yang  penuh kasih merawat, mendidik, dan menanamkan nilai nilai luhur kehidupan bagi anak-anaknya. Sehingga merekapun merasa dalam buaian kasih sayang dan pengayoman yang memungkinkan bagi si anak dapat berkembang sebagai generasi harapan . Bapak dan ibu yang sedemikian kompak dan padu dalam mengasuh keduanya : interaksi yang saling membangun antar anggotanya melahirkan Ketenteraman dan Harmoni yang tak terperikan. Itulah rumah harapan kita.

Namun akan mengerikan Jika rumah yang kita singgahi, meskipun ia luas, bersih, namun tidak perna kita perhatikan "jiwa" rumah kita, ketika kehangatan tegur sapa, canda tawa antar anggota dan rembuk dingin dalam mencari solusi  lenyap dari keseharian kita. Bapak yang gila kerja dan kepayahan saat pulang tidak lagi pernah menyapa, ibu yang sering merasakan kesendirian dalam mengurusi segala pekerjaaan rumah tangga, anak anak yang menjadi liar karena tumbuh tidak dalam pengawasan dan belaian kasih dan didikan semestinya.

Rumah yang tanpa keramahan dan kesejukan para penghuninya  bak Raga tanpa jiwa. Ia ada namun tidak bermakna.

Saat kita bisa fahami sepenuhnya  fungsi dan makna rumah dalam kehidupan dan seberapa jauh mau berusaha untuk menjadikannya sebagai benar-benar surga idaman bagi segenap penghuninya, maka rumahpun akan menjadi titik tolak baiknya generasi dimasa yang akan datang dan ia pun bisa  menjadi surga yang nyaman bagi para penghuninya seperti sinyalemen manusia pilihan : Rasul kita : Muhammad. " Baitii Jannatii" Rumahku Surgaku...

Wallahu a'lam.    

 

Hari/Tanggal : Senin Legi, 27 Maret 2017

Pukul : 19.30 WIB

Tempat : Kediaman Mas Ady, Ds. Pandeyan, Kec. Maospati (Belakang Polsek Maospati) Magetan

Redaksi
Author: Redaksi
Redaktur penulisan website resmi majelis masyarakat maiyah Waro' Kaprawiran