Jika hakikat hidup manusia adalah mengelola hawa nafsu sesuai dengan batasan-batasan syariat, maka pada prinsipnya manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berpuasa seumur hidupnya. Namun puasa yang dimaksud bukan puasa dalam konteks Rukun Islam, melainkan puasa terhadap hal-hal yang harus ditangguhkan bahkan ditinggalkan.

Misalnya, sesuai sunnatullah manusia harus mendapatkan asupan makanan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tapi di sisi lain manusia juga diharuskan puasa dari makanan yang diharamkan ataupun makanan yang bukan haknya. Manusia pun di takdirkan untuk bereproduksi untuk melestarikan generasinya, nanum manusia juga diwajibkan berpuasa untuk melakukannya dengan pasangan yang tidak dibenarkan secara syariat agama. Masih banyak lagi contoh serupa yang bisa kita gali sendiri dari kehidupan di sekitar kita sehari-hari.

Sementara “mokel” merupakan peristiwa dimana manusia secara sengaja melompati pagar puasa yang telah ditetapkan baik dengan diam-diam maupun terang-terangan. Manusia dapat melakukan “mokel” untuk sesekali waktu kemudian melanjutkan puasanya lagi, ataupun melakukannya secara terus menerus dengan mengabaikan hakikat puasa yang melekat pada diri manusia.

Sedangkan kata “mokal” pada idiom “mokal mokel” setidaknya mengandung dua arti yang saling berlawanan. Arti yang pertama terkait idiom “mokal mokel” dapat diartikan sebagai pengulangan aktivitas mokel secara terus-menerus. Kasus serupa terjadi pada kata “gonta ganti”, mompar mampir”, “ndelak ndelok” dst. Idiom ini merepresentasikan manusia yang sering melakukan “mokel” secara terus-menerus. Adapun arti kata “mokal” pada istilah “mokal mokel” juga bisa diarti sebagai kata mustahil atau tidak mungking (red: mukhal). Artinya, selain berarti melakukan aktivitas mokel secara terus menerus, idiom “mokal mokel” juga bisa diartikan mustahil melakukan mokel. Dua arti yang saling berlawanan meskipun berasal dari satu istilah yang sama.

Maka “mokal mokel” diasumsikan sebagai cerminan tabiat manusia dalam menyikapi puasa yang merupakan hakikat dari kehidupan manusia itu sendiri. Dan sebagaimana telah disepakati bersama bahwa “Hari Raya” hanya dipersiapkan bagi manusia yang lulus menjalankan puasa selama hidupnya. Selamat berpuasa.