Manusia terlahir suci dan akan kembali ke asalnya dengan keadaan yang suci pula. Begitulah kira-kira. Setelah kemarin kita berekspresi dan mememukan tempat yang sejati, di sini nanti kita akan kembali mengujar bagaimana cara kita untuk kembali kepada kesejatian itu. 

Salah satunya adalah lakon mutih yang jamak  kita lakukan. Lakon mutih selalu identik dengan puasa. Entah itu berselang waktu 3 hari, 7 hari atau bahkan 41 hari berturut-turut. Tidak boleh batal satu haripun. Makan hanya nasi ~nyel tanpa lauk dan minum hanya air putih. Naasnya, Tak ada toleransi untuk syari'at tersebut.

 Ada hal yang berbeda ketika Al Faqir bertanya kepada mbah google dengan keyword lakon mutih atau puasa mutih. Entah ada berapa juta hasil yang di dapat, tapi yang mau saya kabarkan disini adalah beberapa tulisan teratas hanya membahas kegunaan lelaku tersebut dan sialnya beberapa dari itu lakon mutih hanya digunakan untuk mendapatkan aji panglimunan, aji pengasihan, aji masaid (eh), dan aji-aji yang lain. 

Jika kita memandang esensi lakon mutih , nyatanya lakon mutih sangatlah islami. Bahkan dapat kita masukan kedalam kategori tasawufi. Kita mendapatkan dua keuntungan dari lakon ini yang pertama adalah zuhud Dengan definisi tidak meletakkan dunia di dalam hati. Dan yang kedua adalah tazkiyatun nafs atau memerangi hawa nafsu. 

Karena disini bukan forum Bahtsul Masail maka perlulah kiranya kita sedikit membincang lakon mutih baik untuk islamkan atau tidak. Ataukah islam selalu identik dengan putih. Atau yang putih memang identik dengan suci agar kita mampu kembali ke tempat yang sejati...??? 

Sebuah pertanyaan vital yang terkadang kita lupakan.