Salah satu karya terbesar bangsa nusantara, para leluhur kita, adalah Gamelan. Setelah melewati berbagai musim peralihan zaman serta dinamika iklim politik yang berubah-ubah, Gamelan tetap lestari hingga hari ini.

Ning nong ning gung, sebuah ekspresi bunyi Gamelan yang coba dimaknai lebih luas dan mendalam oleh sebagian orang. Ning kene kita urip, Nong kana kita balik, Ning endi kita balik?, Ning Gusti Kang Maha Agung. Ada juga yang memaknai irama Gamelan sebagai ilustrasi laku kehidupan yang ideal dan harmonis. Nang artinya dalam hidup harus bersikap wenang atau tenang. Setelah tenang kita akan mendapatkan Ning yang artinya wening atau hening, yakni kejernihan hati. Baru setelah itu kita akan Nung, artinya kesinungan atau pinilih, maka kita akan menjadi pribadi pilihan. Maka selanjutnya adalah Neng yang artinya heneng, nafsul muthmainnah. Puncaknya kita akan mencapai Gung, berarti agung atau keagungan atau kemuliaan, sebagai manusia yang rahmatan lil ‘alamin.

Tidak perlu diperdebatkan benar-salah dari sanepan di atas sampai berurat-urat. Semua orang bebas membuat konsep sendiri-sendiri tentang bunyi Gamelan, bahkan tidak harus Ning, Nong, Ning, ataupun Gung. Seperti orang berdebat tentang suara pistol itu apakah dar, der, dor, bam, bang. Tentu tidak perlu diperdebatkan. Yang terpenting adalah penghargaan dan penghayatan kita terhadap spirit yang dilahirkan oleh Gamelan tersebut. Meski begitu, tentu penghayatan ini tak perlu dibawa ke Mahkamah Konstitusi untuk dilegalkan sebagai agama di e-KTP yang dienthit dananya itu, hehe.

Sapto Raharjo mengatakan “Gamelan itu adalah jiwa, bukan benda. Sedangkan instrumen hanyalah perantara”. Tidak bermaksud menafsirkan pendapat Seniman Gamelan Kontemporer asal Yogyakarta tersebut, tapi dari ucapannya bisa ditarik benang merah, yaitu jiwa, spirit. Lagi-lagi hal ini tidak perlu dikaji terkait arti Gamelan berasal dari kata gamel yang berarti menabuh, kemudian mendapat imbuhan an sehingga berarti benda yang ditabuh. Tentu ucapan Sapto sudah melampaui arti kata Gamelan yang etimologic itu. 

Gamelan juga telah menjadi monumen dari peristiwa budaya dan agama di bumi Nusantara pada masa lalu. Memang belum diketahui kapan pastinya Gamelan mulai dimainkan. Namun pendapat yang popular mengatakan bahwa Gamelan muncul pada era Hindu-Budha. Gamelan sering kali dimainkan untuk mengiringi pesta-pesta kerakyatan, upacara adat, hingga peribadahan. Oleh karena itu, ketika islam datang, para juru dakwah tidak serta-merta memberangusnya. Justru Gamelan semakin berkembang dengan hadirnya inovasi yang diciptakan oleh tangan dingin para Wali. Mungkin berbeda dengan beberapa pendakwah “zaman now” yang hanya ngotot ingin menegakkan Fiqh tanpa mempertimbangkan Ushul-nya.  

Seperti Gamelan, hidup ini sepintas terlihat hanya sebuah permainan. Seringkali kita hanyut dan mabuk oleh nada-nadanya yang semacam candu itu. Kemajuan dunia digital seperti sekarang ini, turut menambah silang-sengkarutnya makna Gamelan dengan hanya menyentuh layar gadget saja untuk menghasilkan instrument Gamelan. Seperti halnya bermain Gamelan, hidup harus mampu menemukan nilai yang tersembunyi, adapun yang terdengar dan terlihat mungkin justru sebuah ujian. Maka, plesetan Game(p)lan untuk kata Gamelan yang pernah penulis baca di kaos marchandise Kiai Kanjeng, mungkin lebih cocok daripada frasa GameLand.