Assalamu'alaikum wr.wb

Mboyak-mbodil, sering kali menjadi pilihan sikap seseorang dalam kondisi tertentu. Karena demokrasi dalam forum atau masyarakat sekarang kerap tidak sesuai dengan arti dari demokrasi itu sendiri. Golongan terkuat yang akan jadi penentu tercapainya mufakat. Untuk bersuara golongan lemah tak punya wadah. Sadar akan hal itu golongan tertentu lebih memilih acuh atau mboyak-mbodil. Tentunya banyak lagi alasan untuk memilih acuh.

Seperti melangkah, begitu halnya sifat acuh tak acuh pasti memiliki bathi dan rugi tersendiri, penggiat Waro' Kaprawiran di ngawi mencoba untuk memperkecil kerugian atau dampak negatif dari sifat acuh tak acuh, karena kesadaran itu teman-teman penggiat memilih tema acuh tak asuh untuk tema diskusi sabtu pahingan di WK september ini. Penggiat berharap akan ada beragam asumsi terkait tema diskusi kali ini. 

Acuh tak acuh masih terkait erat deng sikap, begitu juga dengan acuh tak asuh. Tentunya sebuah pilihan yang bertentangan jika memilih untuk acuh tapi masih tetap mengasuh(acuh tak asuh dalam bahasa jawa). Dan sebaliknya acuh tak asuh jika di maknai dengan bahasa indonesia, acuh dan tidak mau mengasuh yang sangat jauh dari ajaran Mbahe yang senantiasa ngemong dan membesarkan hati semua jamaah.

Dengan tercetusnya tema ini teeman-teman penggiat di ngawi berharap bisa mempertebal sikap acuh tak acuh dengan berusaha mengasuh sikap acuh dengan harapan menjadi acuh yang lebih banyak bathinya jika dibandingkan dengan ruginya.

Sedikit bait dari dulur-dulur di ngawi

Ini bukan puisi, atau karya ilmiah

Ini tentang sikap

Sejatinya aku tak pantas bicara sikap

Tapi merdeka adalah hak

Sepi selalu melukiskan munafiknya kita

Bahagia lepas dilempar senyum

Senyum bibir pembual

Bukan itu, Bahagia adalah bahasa jiwa

Kita acuh di acuhkan

Ini Sikap

Seperti halnya punokawan kepada para satriya pandawa

Kita akan mengasuh, ini sikap

Wasalamu'alaikum wr.wb