Seorang psikolog besar berkebangsaan Yahudi mengakatan bahwa fitrah manusia adalah sama seperti binatang. Ketika ia melihat makanan ingin langsung menyantapnya, ketika ia melihat perempuan ingin langsung memegangnya, ketika melihat uang ingin langsung mengambilnya dan lain sebagainya. Adapun jika manusia tidak melakukannya, itu dikarenakan hal-hal dari luar dirinya. Hukum, etika, budaya dan agama. Maka, ketika seseorang semakin terikat hidupnya dengan hal-hal dari luar dirinya tersebut, dianggap pada hakikatnya telah menyalahi fitrahnya sebagai manusia yang murni. Gangguan jiwa.


Baca selengkapnya


Biasa. Satu kata, tiga suku kata, lima huruf, bermakna tak terhingga, tergantung bagaimana kita melihatnya. Dia bisa berhenti pada definisi, bisa dikaitkan dengan tokoh, bisa berarti pencapaian yang membutuhkan proses panjang, bisa juga gabungan beberata kata yang lazim dikenal sebagai othak-athik gathuk.
Jadi,, apakah tema "Biasa" bulan April ini sebatas lelucon konyol leluhur, dan permainan akal manusia?? Atau dia hanya sekedar menggugurkan kelaziman rutinan simpul bulanan? Bersyahadatlah...


Majelis Masyarakat Maiyah Waro' Kaprawiran | BIASA | Sabtu, 21 April 2018 | Pukul 19.30 WIB | Pondok Al - Mukarromah, Desa Metesih, Kab. Madiun #Maiyah #Maiyahan #WKApril


"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." Q.S. al-Kahfi: 17

Dalam kehidupan dunia ini, Allah menegaskan dalam Al-Qur'an Surat al-Kahfi: 17 bahwa tidak ada satupun manusia di dunia yang bisa membuat atau menjadikan manusia lainnya untuk beriman kepada Allah SWT, kita bisa belajar kepada Nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam tidak bisa membuat beriman semua anaknya, begitu juga Nabi Nuh dan Nabi Musa bahkan sampai Nabi junjungan kita ialah Nabi Muhammad SAW, tidak mampu membuat atau menjadikan manusia lain beriman kepada Allah.


Baca selengkapnya


Manusia terlahir suci dan akan kembali ke asalnya dengan keadaan yang suci pula. Begitulah kira-kira. Setelah kemarin kita berekspresi dan mememukan tempat yang sejati, di sini nanti kita akan kembali mengujar bagaimana cara kita untuk kembali kepada kesejatian itu. 

Salah satunya adalah lakon mutih yang jamak  kita lakukan. Lakon mutih selalu identik dengan puasa. Entah itu berselang waktu 3 hari, 7 hari atau bahkan 41 hari berturut-turut. Tidak boleh batal satu haripun. Makan hanya nasi ~nyel tanpa lauk dan minum hanya air putih. Naasnya, Tak ada toleransi untuk syari'at tersebut.


Baca selengkapnya


Judul ini terinspirasi dari dialog di Grup WA simpul JM Magetan yang kebetulan bulan ini ketempatan sebagai tuan rumah rutinan Waro’ Kaprawiran.

Saat itu dulur - dulur tarik ulur soal tempat ngumpul bareng tersebut. Bukan apa-apa kita semua diskusi soal tempat, sebab ia harus dipertimbangkan dari segala sisinya. Kemudahan akses transportasi  bagi dulur - dulur yang jauh, kenyamanan selama acara berlangsung, parkir  dan sebagainya.


Baca selengkapnya


Salah satu karya terbesar bangsa nusantara, para leluhur kita, adalah Gamelan. Setelah melewati berbagai musim peralihan zaman serta dinamika iklim politik yang berubah-ubah, Gamelan tetap lestari hingga hari ini.

Ning nong ning gung, sebuah ekspresi bunyi Gamelan yang coba dimaknai lebih luas dan mendalam oleh sebagian orang. Ning kene kita urip, Nong kana kita balik, Ning endi kita balik?, Ning Gusti Kang Maha Agung. Ada juga yang memaknai irama Gamelan sebagai ilustrasi laku kehidupan yang ideal dan harmonis. Nang artinya dalam hidup harus bersikap wenang atau tenang. Setelah tenang kita akan mendapatkan Ning yang artinya wening atau hening, yakni kejernihan hati. Baru setelah itu kita akan Nung, artinya kesinungan atau pinilih, maka kita akan menjadi pribadi pilihan. Maka selanjutnya adalah Neng yang artinya heneng, nafsul muthmainnah. Puncaknya kita akan mencapai Gung, berarti agung atau keagungan atau kemuliaan, sebagai manusia yang rahmatan lil ‘alamin.


Baca selengkapnya


”Sarunge nyincing.. Kupluke miring.. Awake ceking.. Rokoke nglinting.. Kitabe kuning..”

Seiring dengan menyebarnya ajaran Islam secara massif di Nusantara, khususnya di tanah Jawa pada akhir abad 15, muncullah berbagai kebudayaan baru tengah kehidupan masyarakat. Salah satu aspek yang terdampak oleh perkembangan ajaran Islam adalah dunia pendidikan. Dukuh, ashrama, dan padhepokan sebagai lembaga pendidikan Syiwa-Budha di jaman pra-Islam, secara perlahan digantikan dengan lembaga pendidikan pesantren. Disebut “pesantren” karena lembaga tersebut dihuni oleh para “santri”. Santri berasal dari Bahasa Sansekerta Sashtri yang bararti orang-orang yang mempelajari Sashtra (kitab suci). Namun ada pula yang mengatakan bahwa santri berasal dari bahasa Jawa Cantrik yang berarti orang-orang yang mengabdi kepada orang suci (Ulama).


Baca selengkapnya


"Maaf memaafkan itu setiap saat, sepanjang waktu, di dunia sampai akhirat, setiap hari adalah idul fitri bagi kita, tidak ada hari dimana kita tidak memaafkan di antara kita" - Emha Ainun Nadjib

Waro' Kaprawiran | Halal Bihalal Mbangun Paseduluran | Sabtu Pon, 22 Juli 2017 | Pukul 19.30 WIB | Pondok Pesantren Subulun Najah, Dsn. Ngasinan, Ds. Kedungpanji, Kec. Lembeyan, Kab. Magetan. #WKJuli


Jika hakikat hidup manusia adalah mengelola hawa nafsu sesuai dengan batasan-batasan syariat, maka pada prinsipnya manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berpuasa seumur hidupnya. Namun puasa yang dimaksud bukan puasa dalam konteks Rukun Islam, melainkan puasa terhadap hal-hal yang harus ditangguhkan bahkan ditinggalkan.

Misalnya, sesuai sunnatullah manusia harus mendapatkan asupan makanan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tapi di sisi lain manusia juga diharuskan puasa dari makanan yang diharamkan ataupun makanan yang bukan haknya. Manusia pun di takdirkan untuk bereproduksi untuk melestarikan generasinya, nanum manusia juga diwajibkan berpuasa untuk melakukannya dengan pasangan yang tidak dibenarkan secara syariat agama. Masih banyak lagi contoh serupa yang bisa kita gali sendiri dari kehidupan di sekitar kita sehari-hari.


Baca selengkapnya

Page 1 of 3