Judul ini terinspirasi dari dialog di Grup WA simpul JM Magetan yang kebetulan bulan ini ketempatan sebagai tuan rumah rutinan Waro’ Kaprawiran.

Saat itu dulur - dulur tarik ulur soal tempat ngumpul bareng tersebut. Bukan apa-apa kita semua diskusi soal tempat, sebab ia harus dipertimbangkan dari segala sisinya. Kemudahan akses transportasi  bagi dulur - dulur yang jauh, kenyamanan selama acara berlangsung, parkir  dan sebagainya.


Baca selengkapnya


Salah satu karya terbesar bangsa nusantara, para leluhur kita, adalah Gamelan. Setelah melewati berbagai musim peralihan zaman serta dinamika iklim politik yang berubah-ubah, Gamelan tetap lestari hingga hari ini.

Ning nong ning gung, sebuah ekspresi bunyi Gamelan yang coba dimaknai lebih luas dan mendalam oleh sebagian orang. Ning kene kita urip, Nong kana kita balik, Ning endi kita balik?, Ning Gusti Kang Maha Agung. Ada juga yang memaknai irama Gamelan sebagai ilustrasi laku kehidupan yang ideal dan harmonis. Nang artinya dalam hidup harus bersikap wenang atau tenang. Setelah tenang kita akan mendapatkan Ning yang artinya wening atau hening, yakni kejernihan hati. Baru setelah itu kita akan Nung, artinya kesinungan atau pinilih, maka kita akan menjadi pribadi pilihan. Maka selanjutnya adalah Neng yang artinya heneng, nafsul muthmainnah. Puncaknya kita akan mencapai Gung, berarti agung atau keagungan atau kemuliaan, sebagai manusia yang rahmatan lil ‘alamin.


Baca selengkapnya


”Sarunge nyincing.. Kupluke miring.. Awake ceking.. Rokoke nglinting.. Kitabe kuning..”

Seiring dengan menyebarnya ajaran Islam secara massif di Nusantara, khususnya di tanah Jawa pada akhir abad 15, muncullah berbagai kebudayaan baru tengah kehidupan masyarakat. Salah satu aspek yang terdampak oleh perkembangan ajaran Islam adalah dunia pendidikan. Dukuh, ashrama, dan padhepokan sebagai lembaga pendidikan Syiwa-Budha di jaman pra-Islam, secara perlahan digantikan dengan lembaga pendidikan pesantren. Disebut “pesantren” karena lembaga tersebut dihuni oleh para “santri”. Santri berasal dari Bahasa Sansekerta Sashtri yang bararti orang-orang yang mempelajari Sashtra (kitab suci). Namun ada pula yang mengatakan bahwa santri berasal dari bahasa Jawa Cantrik yang berarti orang-orang yang mengabdi kepada orang suci (Ulama).


Baca selengkapnya


"Maaf memaafkan itu setiap saat, sepanjang waktu, di dunia sampai akhirat, setiap hari adalah idul fitri bagi kita, tidak ada hari dimana kita tidak memaafkan di antara kita" - Emha Ainun Nadjib

Waro' Kaprawiran | Halal Bihalal Mbangun Paseduluran | Sabtu Pon, 22 Juli 2017 | Pukul 19.30 WIB | Pondok Pesantren Subulun Najah, Dsn. Ngasinan, Ds. Kedungpanji, Kec. Lembeyan, Kab. Magetan. #WKJuli


Jika hakikat hidup manusia adalah mengelola hawa nafsu sesuai dengan batasan-batasan syariat, maka pada prinsipnya manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berpuasa seumur hidupnya. Namun puasa yang dimaksud bukan puasa dalam konteks Rukun Islam, melainkan puasa terhadap hal-hal yang harus ditangguhkan bahkan ditinggalkan.

Misalnya, sesuai sunnatullah manusia harus mendapatkan asupan makanan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tapi di sisi lain manusia juga diharuskan puasa dari makanan yang diharamkan ataupun makanan yang bukan haknya. Manusia pun di takdirkan untuk bereproduksi untuk melestarikan generasinya, nanum manusia juga diwajibkan berpuasa untuk melakukannya dengan pasangan yang tidak dibenarkan secara syariat agama. Masih banyak lagi contoh serupa yang bisa kita gali sendiri dari kehidupan di sekitar kita sehari-hari.


Baca selengkapnya


Hidup ini bagaikan lingkaran karena kita melihat kehidupan ini adalah laksana sebuah perjalanan, perjalanan di mulai dari sebuah tempat dan berakhir di tempat yag sama. Tegasnya adalah kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah,dahulu kita tidak ada di dunia dan kita juga akan menjadi tidak ada lagi. Alhamdulillah edisi bulanan Waro’ Kaprawiran juga diperjalankan dan bulan ini tiba di Kota Madiun, tepatnya Sabtu, 20 Mei 2017 di SMK Nusantara, Balerejo Kab.Madiun.

Belajar dari perjalanan di tiap kota kemarin bagaimana kita memulai dari proses introspeksi diri terkait keruwetan, carut marut kehidupan, dengan bertanya,”apa salah kita,. atau apa yang kurang dari kita, ….

Setelah terindentifikasi, kemudian kita mulai “ndandani njero omah” dengan ngrumat dan ngeruwat. Perbaikan itu selalu dimulai dari diri kita dan meluas ke keluarga dan masyarakat, dengan ditandai dengan keberanian untuk babat, membuka lahan baru, bibit, menyemai kebaikan-kebaikan sehingga kita akan menuai sebuah hasil/bobot yang baik kelak,. 


Baca selengkapnya


Maha Suci Allah dari segala kebatilan yang dikandung oleh perkataanku. Maha Agung Ia dari segala kotoran yang termuat oleh ucapanku.
Segala yang selain Ia, hanyalah keniscayaan yang tidak niscaya. Allah mengungkapkan cinta dengan memancarkan cahaya. Cahaya yang Ia cintai dan Ia puji. Segala yang diciptakan hanyalah bagian dan kelanjutan dari yang menciptakan. Dan segala yang diciptakan oleh Allah hanyalah bagian dari Maha Diri-Nya sendiri, serta merupakan wujud ungkapan dari kemauan-Nya sendiri untuk menciptakan dan menyelenggarakan.
Kondisi ibu pertiwi pada era sekarang sudah dalam kategori sakit sakitan, di mana korupsi dan sistem kepemerintahan yang semakin tidak berpihak pada rakyat kecil, hingga moral dan akhlak materialisme sudah menjadi budaya dimasyarakat pada umumnya
Dengan kondisi demikian tidak semudah itu kita bisa memperbaiki bangsa ini yang sedemikian sakitnya, siapapun pemimpinya tidak akan sangup memperbaiki problema bangsa ini dalam jangka pendek, memang harus teradi regulasi total dari atas sampai bawah dan juga perubahan sistem kenegaraan.


Baca selengkapnya


Jika orang jawa mengidentifikasi kebutuhan primer manusia menjadi 3 hal : Sandang, pangan dan Papan sebagai hal  berurutan secara hierarkis yang diawali bahwa orang harus nyandang dulu, (meski dengan perut lapar), baru mencari karunia Tuhan di muka bumi ini untuk kemudian memiliki rumah hunian tetap "omah".

"Omah"(Rumah) sebagai tempat singgah segera harus kita wujudkan setelah kebutuhan sandang lan pangan kita bisa atasi pemenuhannya. Ia menempati urutan ketiga karena memang bisa ditangguhkan untuk sementara waktu atau bahkan untuk waktu yang agak lama. Namun tetap saja ia merupakan kebutuh pokok yang  tidak bisa ditawar pemenuhannya kelak.

Omah sebagai hunian dan tempat bernaung seluruh anggota keluarga memiliki fungsi yang tidak terbatas bagaimana ia bisa menampung anggota keluarga dan tempat berlindung dari terik matahari dan guyuran hujan saat ia menerpa. Dari sanalah segala yang berkaitan dengan peradaban manusia dimulai dan berpijak. Sepasang suami-istri menyusun rencana, meneguhkan cita cita,meruwat asa untuk terus bertahan ditengah amuk badai tantangan dalam kehidupan, atau bahkan berdiskusi dalam menggapai mimpi paling tinggi bagi anak anak mereka kelak. Di rumahlah tempatnya.

Ia merupakan tempat bermula segala hal namun sekaligus tempat kembali segala sesuatu dimana segala penat dan dan keletihan jiwa dalam meladeni ambisi duniawi bisa diurai kembali.

Saat tertentu Rasul bersabda " Baitii Jannatii" Rumahku adalah Surgaku, suatu isyarat berharga dari manusia pilihan akan urgensi rumah dalam kehidupan umatnya. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa menjadikan rumah kita sebagai surga kita? Apakah ketika kita mampu membangunnya fisikly dengan megah dan menyediakan segala perabotan mahal semua didalamnya? Apakah juga keluasan rumah yang akan menjanjikan tempat istirah yang nyaman bagi anggotanya segingga layak dikatakan sebagai surga?


Baca selengkapnya


"Rasulullah SAW tidak bisa mengatasi tantangan di Mekkah, Maka beliau berhijrah di ke Madinah, Kita tidak mampu mengatasi masalah di negeri ini, maka kita berhijarah ke Maiyah." Daur 18 - Hijrah Maiyah

 

Jika melihat situasi yang sekarang ini, semakin ruwet saja masalah yang terjadi disekitar kita dan disegala bidang di Negara ini, apalagi melihat berita baik di televisi, media cetak atau online, internet dan terutama di media social. Sudah diketahui bersama, diera informasi sekarang ini derasnya arus informasi hampir tidak bisa dibendung lagi. Semua orang bebas berpendapat dan beropini, semua bisa menjadi wasit, hakim, sampai malaikat atau bahkan Tuhan. Saling memposting kebenaran masing-masing demi mencari siapa yang benar, sedangkan pada hakikatnya yang perlu dicari adalah apa yang benar.

 

Sebagai masyarakat yang memahami cinta sebagai kata kerja (bukan kata sifat) akan terus berusaha menghadapi keruwetan itu bukan malah lari darinya. Caranya dengan kita Rumat(menjaga), Rawat(merawat) sampai me-Ruwat(mengurai) semampu kita. Pada prinsipnya gampang, kalau tidak bisa mengurai keruwetan itu, kita tidak akan menambahi keruwetan itu. Kesannya memang kita menarik diri(mundur) tapi sebenarnya kita sedang menempa diri, menguatkan diri jika sewaktu-waktu dibutuhkan kita mampu menyelesaikannya dengan baik, dimulai dari lingkungan terdekat kita sendiri. Seperti dongkrat mobil, yang selalu setia di bagasi, hanya digunakan jika ban mobil bocor, tapi dongkrak mobil itu selalu siap jika sewaktu-waktu digunakan.


Baca selengkapnya

Page 1 of 3