Kabut gelap tengah menyelimuti langit negeri ini, belum juga terobati duka mendalam akibat gempa bumi di Lombok bulan juli kemarin, Indonesia kembali harus mengalami guncangan dengan ganasnya Gempa dan Tsunami di Palu akhir September lalu. Seolah alam memberi peringatan dan memaksa manusia untuk segera menyerah dan pasrah bahwa tak ada satupun manusia yang bisa menolong mereka, kecuali Allah dan Syafaat Nabi Muhammad SAW. Pemandangan kelam ini ternyata berbanding lurus dengan kondisi masyarakat pada umumnya, Demokrasi yang kita harapkan belum tercapai sepenuhnya, perjuangan untuk bebas dari totalitarianisme dengan jalan reformasi dibajak masuk kearah oligarki oleh para pemilik modal ditingkat Internasional, Nasional, dan Lokal. Pertikaian antar partai politik seakan tidak ada habisnya, dan menjadi wajah buruk bangsa saat ini. Tak pelak masyarakat pun kehilangan kepercayaan mereka terhadap pemangku kepentingan.


Baca selengkapnya


Assalamu'alaikum wr.wb

Mboyak-mbodil, sering kali menjadi pilihan sikap seseorang dalam kondisi tertentu. Karena demokrasi dalam forum atau masyarakat sekarang kerap tidak sesuai dengan arti dari demokrasi itu sendiri. Golongan terkuat yang akan jadi penentu tercapainya mufakat. Untuk bersuara golongan lemah tak punya wadah. Sadar akan hal itu golongan tertentu lebih memilih acuh atau mboyak-mbodil. Tentunya banyak lagi alasan untuk memilih acuh.


Baca selengkapnya


Waktu terus berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun semua berlalu dengan cepatnya tak sedetik pun mau menunggu. Tanpa disadari tahun demi tahun telah berlalu sejalan dengan berkurangnya kuota hidup di dunia ini, semampunya kita telah berusaha hidup selayaknya manusia walaupun dengan kadar kemampuan dan semangat yang berbeda-beda. Hampir semua manusia berorientasi pada suatu puncak yang dinamakan “kesuksesan” namun sukses seperti apa sih yang diharapkan?

Ngadu Mongso ketika diartikan secara harfiah ngadu atau beradu, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai lomba atau berlomba, dapat juga diartikan berbenturan sedangkan. mongso adalah waktu, jadi ngadu mongso ketika kita artikan secara sederhana adalah beradu waktu, disadari atau tidak kita sering ngadu mongso dalam hidup kita. Lalu ngadu mongso dengan apa atau ngadu mongso dengan siapa, itulah pertanyaannya?


Baca selengkapnya


Empat dalam bahasa jawa “ngoko” yakni salah tingkatan bahasa yang paling umum dipakai dalam keseharian  disebut “papat”.  Lantas berubah menjadi “sekawan” pada bahasa jawa “krama”, tingkatan bahasa jawa  halus,  yang digunakan untuk bahasa bercakapan dengan orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Sekawan (empat) memiliki makna tersendiri bagi Waro’ Kaprawiran, meski Agustus 2018 ini baru memasuki tahun yang ke tiga. Ada empat wilayah yang menyatu dalam Waro’ Kaprawiran. Empat wilayah dengan keunikan dan kelangkaan karakter masing-masing. Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo. Sehingga boleh dibilang Waro’ Kaprawiran adalah empat sekawan. Sekawan bukan lagi bermakna empat namun men “satu” dalam perkawanan.


Baca selengkapnya


Di dalam Al-Qur'an dijelaskan, setiap manusia diturunkan ke bumi untuk menjadi seorang pemimpin. Paling tidak dia bisa memimpin dirinya sendiri, pertama. Kedua ia memimpin keluarganya. Ketiga orang-orang di sekitarnya atau masyarakat, begitu seterusnya sampai ke suatu wilayah atau kenegaraan. Di sisi lain, manusia dalam proses memimpin. memimpin diri misalnya, terdapat proses yang namanya “noto”. Dalam ranah kehidupan maupun memimpin kita tidak pernah lepas dari yang namanya “noto”. “noto” dalam bahasa indonesia berarti; mengatur, menyusun, membenahi, dari makna ini peran “noto” sangat erat dan kental sekali dengan kehidupan. 


Baca selengkapnya


Seorang psikolog besar berkebangsaan Yahudi mengakatan bahwa fitrah manusia adalah sama seperti binatang. Ketika ia melihat makanan ingin langsung menyantapnya, ketika ia melihat perempuan ingin langsung memegangnya, ketika melihat uang ingin langsung mengambilnya dan lain sebagainya. Adapun jika manusia tidak melakukannya, itu dikarenakan hal-hal dari luar dirinya. Hukum, etika, budaya dan agama. Maka, ketika seseorang semakin terikat hidupnya dengan hal-hal dari luar dirinya tersebut, dianggap pada hakikatnya telah menyalahi fitrahnya sebagai manusia yang murni. Gangguan jiwa.


Baca selengkapnya


Biasa. Satu kata, tiga suku kata, lima huruf, bermakna tak terhingga, tergantung bagaimana kita melihatnya. Dia bisa berhenti pada definisi, bisa dikaitkan dengan tokoh, bisa berarti pencapaian yang membutuhkan proses panjang, bisa juga gabungan beberata kata yang lazim dikenal sebagai othak-athik gathuk.
Jadi,, apakah tema "Biasa" bulan April ini sebatas lelucon konyol leluhur, dan permainan akal manusia?? Atau dia hanya sekedar menggugurkan kelaziman rutinan simpul bulanan? Bersyahadatlah...


Majelis Masyarakat Maiyah Waro' Kaprawiran | BIASA | Sabtu, 21 April 2018 | Pukul 19.30 WIB | Pondok Al - Mukarromah, Desa Metesih, Kab. Madiun #Maiyah #Maiyahan #WKApril


"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." Q.S. al-Kahfi: 17

Dalam kehidupan dunia ini, Allah menegaskan dalam Al-Qur'an Surat al-Kahfi: 17 bahwa tidak ada satupun manusia di dunia yang bisa membuat atau menjadikan manusia lainnya untuk beriman kepada Allah SWT, kita bisa belajar kepada Nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam tidak bisa membuat beriman semua anaknya, begitu juga Nabi Nuh dan Nabi Musa bahkan sampai Nabi junjungan kita ialah Nabi Muhammad SAW, tidak mampu membuat atau menjadikan manusia lain beriman kepada Allah.


Baca selengkapnya


Manusia terlahir suci dan akan kembali ke asalnya dengan keadaan yang suci pula. Begitulah kira-kira. Setelah kemarin kita berekspresi dan mememukan tempat yang sejati, di sini nanti kita akan kembali mengujar bagaimana cara kita untuk kembali kepada kesejatian itu. 

Salah satunya adalah lakon mutih yang jamak  kita lakukan. Lakon mutih selalu identik dengan puasa. Entah itu berselang waktu 3 hari, 7 hari atau bahkan 41 hari berturut-turut. Tidak boleh batal satu haripun. Makan hanya nasi ~nyel tanpa lauk dan minum hanya air putih. Naasnya, Tak ada toleransi untuk syari'at tersebut.


Baca selengkapnya

Page 1 of 4