(Untuk Anak Cucu Maiyahku, 3)

Emha Ainun Nadjib  •  7 Nov 2017

Kalau engkau memandang sampai kedalaman danau air Maiyah, tampak betapa sejatinya Tsaqafah Tauhid yang dijalani Jibril, Adam hingga kesempurnaannya pada Baginda Muhammad saw.

Kelihatan juga oleh pandanganmu tingkat kebenaran alamiah masyarakat nomaden, suku-suku, komunitas, maupun tingkat kemashlahatan Kerajaan, Keraton, Persemakmuran, Perdikan, Republik, Demokrasi, hingga pun Globalisasi.


Baca selengkapnya


(Untuk Anak Cucu Maiyahku, 7)

Emha Ainun Nadjib  •  10 Nov 2017

Maiyah adalah hadiah dari Allah, bukan karya kita. Semua kekurangan Maiyah berasal dariku. Kita bersyukur Allah menganugerahkan Cak Fuad dan Syekh Kamba, sebagai Marja’ ilmu kita semua. Tetapi kami bertiga bukan Ulama, Mursyid atau Kiai, sebagaimana beliau-beliau di luar sana. Selama 24 tahun ini kita berkumpul dan hanya berjuang mencintai dan mendekat kepada Allah Muhammad kekasih-Nya, mengikhtiari manfaat hidup. Termasuk buat Indonesia.

Aku Mbah kalian semua adalah manusia biasa, awam dalam hal ilmu keagamaan maupun ilmu modern. Tidak ada padaku ekspertasi bidang apapun. Aku tidak berada di jalur pembelajaran Ulama, Santri maupun para modern scholars. Aku tidak punya sanad ilmu di wilayah tadarrus, ta’lim, tafhim, ta’rif maupun ta`dib. Aku tidak merupakan bagian dari nasab yang perlu diperhatikan. Tidak ada yang anak cucuku bisa andalkan dan harapkan dariku, lebih dari yang sejauh ini Allah memperkenankan. Apalagi yang menyangkut perkara-perkara besar Indonesia dan peradaban ummat manusia. Hanya kasih sayangku dan kami bertiga kepada kalian, itupun hanya setetes dua tetes.


Baca selengkapnya


(Untuk Anak Cucu Maiyahku, 5)

Emha Ainun Nadjib  •  9 Nov 2017

Di tengah panas terik dan puncak kehausan, seteguk air itu dahsyat, nikmat, ajaib, bahkan serasa “mukjizat”. Bukan karena setetes air itu sebanding mutunya dengan segelas Es Teler, melainkan karena kadar rasa syukur orang yang sedang sangat haus.

Andaikan Maiyah itu semacam seteguk air: ia bukanlah karya, bukan prestasi, bukan sukses, bukan keberhasilan dan kejayaan siapapun saja. Tak ada selain Allah yang mampu menyelenggarakan keajaiban. Karena keajaiban itu juga diperuntukkan hanya bagi yang Allah memperkenankannya, sehingga mengalami keajaiban itu.


Baca selengkapnya


(Untuk Anak Cucu Maiyahku, 4)

Emha Ainun Nadjib  •  8 Nov 2017

Maiyah adalah bagian dari Ummat Islam dan bangsa Indonesia, meskipun ia tidak membatasi dirinya dan tidak bisa dibatasi untuk hanya berada dan berlangsung di wilayah dan skala itu.

Maiyah melihat bahwa sangat dekat waktu di depan hidungnya: bangsa Indonesia sedang ditimpa bahaya besar yang mengancam eksistensinya, martabat dan keamanan tanah airnya. Sementara Ummat Islam sedang mengalami pertentangan yang sangat mendasar dan serius di antara mereka, meskipun keduanya tidak merasa apa-apa dan tidak menyadari bagaimana-bagaimana.


Baca selengkapnya


(Untuk Anak Cucu Maiyahku, 2)

Emha Ainun Nadjib  •  6 Nov 2017

Sebagai yang dititipi mengawal memancarnya mataair Maiyah, aku mengalami dan menyimpulkan bahwa Maiyah itu tidak ada manfaatnya bagi kehidupan di mana manusia fokus menikmati dan merakusi dunia. Disebabkan oleh sekurang-kurangnya sepuluh hal, yang kupetikkan dari ribuan sebab:

Pertama, Maiyah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Kedua, Maiyah tidak memposisikan dunia sebagai tempat membangun kehidupan yang nyata berdasarkan kesejatian dan keabadian. Ketiga, Maiyah tidak berminat untuk memiliki dan menguasai dunia. Keempat, Maiyah tidak punya kesanggupan dan perangkat untuk mengubah kehidupan manusia di dunia. Kelima, Maiyah tidak berani ikut melakukan perusakan atas rahmat dan amanah Allah.


Baca selengkapnya

Page 1 of 2