Sudah sekian tahun, dan mungkin akan demikian ke depannya, Maiyah meniti kesabaran untuk tidak tergoda memadatkan dirinya menjadi suatu identitas komunal tertentu, apakah itu organisasi massa (ormas), perkumpulan, yayasan, perguruan, atau bentukan-bentukan lain. Barangkali tidak sedikit di antara warga/jamaah Maiyah yang berpikir perlunya pemadatan itu.Dinamika yang berjalan sejauh ini mengantarkan Maiyah memfokuskan diri sebagai Majelis Ilmu, yang berfokus pada upaya-upaya membangun manusia Maiyah yang berilmu, bermartabat, dan bermanfaat. Namun di dalam kesadaran Majelis Ilmu itu, juga terdapat kuda-kuda bahwa sebagai Majelis Ilmu, Maiyah senantiasa terbuka untuk kemungkinan fungsi yang lebih luas manakala situasi membutuhkan. Dan dalam praktiknya, impelementasi dari majelis ilmu itu terus berjalan, bergulir, dan bergerak. Sehingga di dalam pengalaman Maiyah, terasa bahwa kenyataan tidak membiarkan ilmu hanya berhenti sebagai ilmu, tetapi berfungsi dan bermanfaat bagi kehidupan.


Baca selengkapnya


Kalimat “Indonesia Bagian dari Desa Saya” merupakan buah pemikiran Cak Nun yang lahir di tahun ‘70an, sebuah gagasan jitu dalam menjawab realitas masyarakat Indonesia kala itu. Di mana gelombang penjajahan model baru yang diprakasai oleh kapitalisme global, digerakkan oleh semangat hubbuddunya para syaitonirrajiim dan sedang diperagakan oleh penguasa negara saat itu. Dengan selogan atas nama ‘pembangunan’ dan ‘modernisasi’ penjajahan itu memulai langkah menggulung dan memporak porandakan bangunan harmonis masyarakat Indonesia. Desa yang tata titi tentrem dalam budaya kebersamaan, kerukunan dan kebersahajaan tiba-tiba menjadi goyah dan hampir ambruk diterjang gelombang pembangunan Indonesia. Maka dengan ungkapan “Indonesia Bagian dari Desa Saya” Cak Nun mengajak masyarakat Indonesia untuk sadar kembali bahwa desa yang memiliki pola hidup bersahaja, rukun dalam kebersamaan, tidak mudah mengumbar keserakahan adalah wujud otentik masyarakat Indonesia. Oleh karena itu sesungguhnya desalah yang sanggup menampung Indonesia, bukan sebaliknya.


Baca selengkapnya

Page 2 of 2