Oleh : Agung Satria

(jangan dibaca kalau kalian bukan orang Indonesia)

Mengajari tanpa menggurui, Meluruskan tanpa menyalahkan. Masih terngiangkah dibenak kita tentang beberapa permainan sederhana yang makna dan filosofinya tidak sesederhana apa yang tampak dimata. Seperti Gobak Sodor, siapa yang masih menemui permainan ini di Sekolah Dasar? atau di lingkungan kalian? Masih adakah?

Banyak nilai yang terkandung dalam permainan Gobak Sodor ini. Nilai yang berhubungan dengan diri sendiri dalam permainan ini melatih anak untuk berbuat jujur, yaitu Jika berada dalam kelompok yang mentas mengakui jika tersentuh lawan atau melewati batas mati. Dan jika berada dalam kelompok jaga garis, tidak berbuat curang dengan keluar dari garis penjagaan bertanggungjawab dengan melakukan tugas jaga garis dengan baik sesuai perannya masing-masing, sebagai anggota kelompok yang menjaga garis horizontal ataupun jaga garis vertikalbergaya hidup sehat, disiplin anak-anak mematuhi ketentuan dan peraturan dalam permainan gobak sodor terdapat nilai kerja keras, anak-anak berusaha keras menerobos garis-garis yang dijaga lawan untuk mendapatkan nilai dan kemenangan. Kerja keras ditunjukkan kelompok yang sedang jaga garis dengan berusaha mengejar anggota kelompok yang sedang mentas untuk menyentuhnya agar keadaan menjadi berbalik.

 Bergaya hidup sehat Sebagai anggota tim yang menjaga garis berlarimengejar lawan dan sebagai anggota kelompok yang mentas harus menghindari sentuhan lawan merupakan kegiatan yang memerlukan tenaga sama seperti kegiatan berolahraga percaya diri. Ketika mulai bermain anak-anak tidak pernah berpikir untuk kalah duluan, mereka yakin terhadap kemampuannya untuk menang dan dengan berani menghadapi lawan dalam permain. Permainan ini mengajak kita berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif. Gobak sodor merangsang aktivitas berpikir menentukan strategi untuk menerobos garis penjagaan lawan, melihat situasi dan kondisi mengambil kesempatan, mengecoh lawan dan memikirkan bagaimana cara memperoleh kemenangan tanpa tersentuh penjaga garis.

Sebenarnya masih banyak lagi kalau mau dijelaskan nilai yang terkandung pada setiap detailnya. Nah begini teman-teman. Kita Indonesia, sebagai negara yang berbudaya, sekali lagi setiap tulisan ini berusaha menggugah teman-teman semuanya untuk kembali melihat betapa bahagianya dahulu masih menemui permainan ini meskipun kita sebenarnya oleh orang tua tidak dipahamkan mengenai filosofi, nilai, dan makna dari permainan tradisional ini. Bukan saatnya kita menyalahkan siapa-siapa, bukan waktunya kita memperdebatkan apa yang salah. Namun, kita generasi milenial dengan tingkat kecerdasan yang lebih dibanding dahulu, mari bersama-sama kita menanamkan kembali apa yang telah luput hari ini. Mari kita melihat kebelakang untuk masa depan agar Nilai-nilai leluhur yang dibangun dahulu tetap ada. 5 tahun lagi permainan ini tentu akan punah tanpa ada yang berusaha memperkenalkan, mengajarkan, memahamkan kepada anak-anak yang lahir di Indonesia. Inilah cara orang dahulu membentuk karakter. Bukan dengan gadget, game online.

Outcome nyata yang diharapkan setelah membaca tulisan ini adalah membuat teman-teman mahasiswa khususnya pada momen KKN dan event-event, sebagai salah satu dharma bakti kepada Tanah Air permainan tradisional bisa menjadi salah satu opsi kawan-kawan. Kalau bangsa Indonesia adalah Garuda, kebangkitannya harus bervisi Garuda. Kalau bangsa Indonesia tidak tahu siapa dirinya, bagaimana mendisain kebangkitannya. Selamat Menunaikan Ibadah Berbangsa dan Bernegara.

Video: Waro' Kaprawiran    

Redaksi
Author: Redaksi
Redaktur penulisan website resmi majelis masyarakat maiyah Waro' Kaprawiran