Tumo dalam bahasa jawa berarti kutu. Kutu yang bersemayam di kepala manusia. Itulah tumo. Menurut Wikipedia, Kutu kepala atau tumo adalah “sejenis parasit penghisap darah yang biasanya hidup di bagian kepala. Kutu betina mampu bertelur enam buah sehari. Telur ini selalu melekat dengan kuat pada rambut. Telur-telur ini akan menetas setelah kurang lebih 8 hari. Kutu kepala merebak dengan cepat melalui sentuhan dengan rambut yang bermasalah. Ia juga dapat melompat ke kepala melalui sisir, topi, bantal dan handuk”. Begitulah web Wikipedia berujar tentang kutu ini.

Dulu, saat saya masih kanak-kanak, memiliki kutu jenis ini adalah hal lumrah. Tapi itu dulu. Tahun 1990an. Namun, sepertinya anak jaman sekarang jarang yang memiliki kutu jenis ini. Atau bisa dibilang tak ada yang memiliki kutu rambut. Karena sudah habis di ringkus oleh samphoo atau suatu kualitas perilaku kebersihan rambut era now yang membuat habitat dan koloni kutu punah. Sang kutu mampus menelan sejenis samphoo atau obat-obatan pemusnah kutu. Anak jaman now, muskil memiliki kutu rambut. Khayal, rambut anak jaman now bersih dan bahkan indah. Kutu? No..no..no!

Namun. Ternyata oh terntaya. Teori bahwa ‘kutu musnah’, terpatahkan oleh teriakan suami saya di kala senja itu, sambil membelalak melihat kutu bersarang dan beranak pinak penuh damai di kepala anak saya, sebuah pernyataan terlontar. “ Jabang bayik! tak kiro wes punah lo tumo ki, ee jebul jik exist” lantas ia terbahak-bahak. Dan mulai saat itu si monster tumo menjadi terror di seluruh anggota keluarga kami. Tak satupun anggota keluarga kami lolos dari monster tumo ini. Kutu oleh-oleh dari Pondok Romadhon selama 7 hari di sekolah sukses ber ekspansi di kepala kami sekeluarga. Peditox sang obat legendaris tak juga mampu mengsir sang monster. Perilaku keramas tiap hari berturut-turut dan dilanjut penyisiran tumo dengan jungkas khusus penjaring tumo telah diterapkan. Gagal. Autan yang seharusnya untuk kulit pengusir nyamuk sudah kami terapkan. Gagal! Karena kami takut keracunan dan mabuk. Segala cara gagal karena si pabrik kutu yaitu pemiliki kepala penuh tumo alias anak kami susah dikendalikan. Namanya juga anak-anak. Disuruh mandi saja berasa disuruh mengerjakan PR apalagi disuruh keramas, tiap hari pula. Seperti menyuruh anak sd mengerjakan tugas matematika dan akuntasi kelas 3 SMA. Ia akan berontak menolak, protes seolah hak asasi dia sebagai anak terjarah. Jelas susah, jelas tidak mau. Alhasil, monster kutu masih dengan damainya bersarang sejahtera dikepala kami. 

Diera digital, era touch screen, era orang Inggris bisa rasan-rasan dengan orang Ponorogo hanya dengan HP, bahkan bisa melihat wajahnya sekaligus, dimana era robot yang ngepel rumah, era orang bisa mengendalikan blender atau ac rumah melalui asisten google, bisa-bisanya masih ada manusia modern tekena parasit kutu rambut kok seolah kami berasal dari era pra sejarah saja, sungguh lucu dan ironis. 

Ada anugerah dibalik musibah. Ada indah dibalik ketakindahan. Ada pelangi dibalik hujan deras. Monster tumo ini anggap saja musibah. Karena ia dianggap memalukan diera milenial ini. Dianggap aib diera ‘hair modern hygiene’. Dengan adanya sang monster tumo ini, dengan melalui tumo ini pemirsa, romantisme manten anyar seolah dihadirkan kembali ditengah kesibukan dan sepuhnya usia pernikahan kami. Karena suami yang berambut kribo, tebal dan panjang hingga pundak, maka ia akan kewalahan keramas sendirian. Otomatis butuh bantuan saya. Jika sang tumo membludak, maka 7hari berturut-turut suami minta di keramas di emperan rumah. Memakai kolor sepanjang lutut, kaos oblong suami ndodok diatas batu dibawah terik matahari sembari saya punguti tumo dan telurnya satu persatu. Seharian penuh saya sisiri rambut panjang dan kribonya. Dhidis mencari tumo dengan suri. Hunting telur-telurnya yang kecil-keciiiillll ramai gondelan di sepanjang rambut suami saya. Ritual sederhana yang amat sangat saya syukuri sebagai anugerah nomplok. Siapa sangka saya diam-diam suka dhidis ini. Diam-diam saya panjatkan doa supaya tumo ini exist terpelihara dikepala suami saya, biar sesibuk apapun suami ngurusi WK 4 kabupaten, KIU tanggapan dimana-mana, Maiyah Ponorogo dan yang lain-lainnya, kami masih memiliki “privat romantic dhidis stuff”. Maka jika sebulan penuh acara full dan membuat kami jarang bersua, lalu mendadak suami garuk-garuk kepala dengan ekstrimnya memakai dua tangan, saya sumringah. Itu pertanda populasi tumo mulai padat. Sebentar lagi suami minta di keramasi 3hari…5 hari atau 7hari berturut-turut di emper rumah dibawah terik matahari seharian penuh hingga seolah tumo-tumo itu habis aku pithes-i satu-satu. Dan kami bercengkrama asyik masyuk khusuk seharian.

Tumo ini aib. Tumo ini parasit. Tumo ini sungguh sangat mengganggu. Namun dibalik kehadirannya ada berkah keromantisan, kehangatan, kelucuan dan hadiah tak terduga. Dan dikeseharian kita berada, pasti akan kita temukan tumo-tumo dalam bentuk yang lain yang mana kita gerah luar biasa atas kehadirannya. Tumo itu bisa jadi tetangga yang kurang ajar. Teman yang jahil bin dholim. Keributan ulah manusia yang menjajah kedamaian kita sehari-hari.  Ia bisa berwujud apa saja di sekeliling kita. Namun insyaallah dengan kita memiliki kemauan untuk ridho dan bersabar atas hadirnya tumo-tumo tersebut, insyaallah, Allah akan hadirkan hadiah dan berkah indah dibalik kehadiran tumo tersebut. Wallahuaklambishowab.

Zaky.a.d

Maiyah nusantara asghor ponorogo

Redaksi
Author: Redaksi
Redaktur penulisan website resmi majelis masyarakat maiyah Waro' Kaprawiran