Mapak berasal dari Bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia bisa disamakan dengan Menjemput. Orang-orang desa saya khususnya jamaah masjid sekitar rumah sering menyebut amalan pada malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadhan dengan Mapak lan Ndedepi Lailatul Qodar. Karena sudah kita ketahui bersama bahwa datangnya Lailatul Qodar tidak ada yang tahu persis, Allah S.W.T hanya memberikan tanda-tanda yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Qodar dan beberapa Hadist Nabi Muhammad S.A.W. Saya tidak akan membahasa banyak tentang tanda-tanda datangnya Lailatul Qodar, tapi lebih kepada, kenapa orang-orang menyebutan amalan pada malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadhan itu dengan Mapak lan Ndedepi Lailatul Qodar, salah satunya bisa karena tidak adanya yang mengetahui kepastian datangnya Lailatul Qodar selain Allah S.W.T, bisa juga karena sebenarnya Lailatul Qodar bisa datang kapan saja dan dimana saja selama bulan Ramadhan, jadi kitalah yang harus menjemputnya sendiri-sendiri sehingga datangnya Lailatul Qodar bisa berbeda-berbeda hari dan waktunya di dalam bulan Ramadhan.

Dalam menjemput Lailatul Qodar sudah pastilah kita tidak seperti biasa begitu saja, dalam bulan Ramadhan ini Mbah Nun menulis dalam rubrik Jaburan di kenduricinta.com, salah satu tulisannya berjudul : Siapkan Self Receiver untuk Lailatul Qodar, yang belum tahu arti Self Receiver saya mengartikannya dengan alat penangkap yang ada dalam diri kita, jangan membayangkan bentuknya seperti antenna atau sensor lainnya seperti yang ada dalam smartphone kita. Jadi, untuk bisa mapak (menjemput) Lailatul Qodar kita harus menyiapkan penangkapnya dalam diri kita, kita harus mengupgrade diri kita supaya kompatibel dan dapat menangkap Lailatul Qodar. Saya contohkan sinyal 4G, tidak mungkin kita bisa menangkap sinyal 4G jika masih menggunakan smartphone lama keluaran 2010 kebawah, kita harus mengupgrade smartphone kita ke tipe terbaru sehingga bisa menangkap sinyal 4G. Begitu juga dalam mapak (menjemput) Lailatul Qodar, setahu saya dan pemahaman saya yang banyak salahnya ini, untuk menyiapkan mapak (menjemput) Lailatul Qodar dengan membersihkan Hati dan Pikiran kita, bisa dengan memperbanyak Qiyamul Lail, membaca Al-Qur’an kemudian mentadaburrinya dan Dzikir mohon ampun sebanyak-banyaknya, karena menurut Hadist, amalan dzikir yang paling utama Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W pada malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadhan adalah membaca “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni” ( Ya Allah sesungguhnya engkau maha pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku ).

Kebanyakan orang mengharap setelah mendapatkan Lailatul Qodar akan mendapat kesuksesan keduniaan seperti karier, harta benda dan sebagainya, boleh saja, tapi janganlah memandang semua hanya dengan ukuran materi saja, sehingga jadi kurang tepat dalam memaknai Al-Qur’an Surat Al-Qodar, secara Bahasa bisa diartikan “ibadah satu malam yang bertepatan turunya Lailatul Qodar sama dengan beribadah selama 1000 bulan”, kalau boleh mentadabburi Ayat tersebut, 1000 bulan atau sekitar 83 tahun, saya artinya seumur hidup manusia, orang yang pada malam turunya Lailatul Qodar dapat merasakan datangnya Lailatul Qodar efeknya menjadikan orang itu baik seumur hidupnya. Kalau Mbah Nun menghikmahi Lailatul Qodar dengan “Lailatul Qodar itu Luxury (keistimewaan). Suatu momentum amat sangat istimewa, yang kalau manusia sanggup menyentuhkan diri padanya, maka pengalaman dan perolehan sesaatnya itu akan mengatasi kualitas pengalamannya dalam seribu bulan”

Selamat berpuasa, selamat melaksanakan ibadah sunnah lainya selama bulan Ramadhan, semoga Istiqomah sehingga kita bisa Kompatibel dan mempunyai Self Receiver yang kuat untuk bisa menangkap keistimewaan Lailatul Qodar, Self Receiver yang kuat untuk bisa menangkap kesedihan dan keluh kesah saudara atau tetangga sekitar, karena output utama dari puasa adalah menjadi orang yang bertaqwa, saya artikan taqwa dengan takut kepada Allah S.W.T, sehingga tidak mungkin kita dholim kepada semua ciptaan-Nya, karena kalau kita tidak baik dan tega menyakiti ciptaan-Nya sudah pastilah akan menerima balasan-Nya.                  

Wallahu a’lam bissowab

(GAB)