Sasiné sasi Besar,, musimé musim kaji lan rabi. Bulannya, bulan Dzulhijah, musimnya, musim haji dan menikah.

Aku tegaskan,, ini bukan sebuah tulisan tentang kisah ratapan pemuda jomblo yang miskin. Jangan menganggap seolah-olah ini adalah sebuah gugatan akan kondisi. Ada hal yang lebih menarik, daripada sebuah hal receh yang orang besar tak terlalu mengambil pusing soal itu. Meskipun saya bukan orang besar.

Adalah ia sebuah trend -meskipun itu bukan trend- ibadah menikah, yang perhelatannya banyak dilangsungkan bersamaan dengan Bulan Haji. Yang menarik disini adalah korelasi keduanya, antara menikah dan haji.

Dulu aku bertanya-tanya,, Haji itu ibadah apa,, kenapa dia diletakkan diposisi ke lima dengan keterangan (bila mampu),, kenapa juga hanya pada dia ada semacam penghargaan gelar bagi mereka yang sudah menjalankannya? Ini pasti bukan soal biaya, jarak, waktu, kesulitan menjalankan, dsb. Pasti ada yang yang lebih dari itu. Dan dari situlah, dari sekian banyak jawaban atas pencarian itu,, napak tilas Nabi Ibrahimlah yang paling pas. Karena ibadah pasti syarat akan pemaknaan. Kita jadi tahu, meskipun tidak persis, perjuangan Nabi Ibrahim, bapak dari tiga agama, dalam mencari Tuhannya. Perjalanan bolak-balik mencari air,, membangun ka'bah, hingga kisah penyembelihan Ismail putra yang didambakan. Coba bayangkan dan berempatilah soal itu, hal yang beliau dambakan, yang beliau tunggu dalam waktu yang lama,, puta yang lahir dan dia besarkan, seketika Diminta untuk mengakhiri oleh tangannya sendiri lewat penyembelihan, padahal apa yang selama ini beliau berikan tidak kurang-kurang dalam penghambaan kalau dipikir??

Sejalan dengan hal itu,, coba kaitkan dengan bagaimana beratnya orangtua melepaskan anak gadisnya kepada pemuda yang tak tahu seluk beluknya putrinya. Masih terpatri dalam ingatan,, tumbuh kembang sang putri, dari kegemasan, kelucuan, hingga kenakalannya. Dan kini,, tiba-tiba ada seorang pemuda yang memintanya. Bisa jadi pesta pernikahan adalah topeng duka hatinya.

Maka,, kalau dalam kebudayaan Jawa, ada semacam kenaikan kelas derajat setelah mantu bubak itu ada benarnya. Mempersembahkan hal yang paling dicintai,, memberikan hal yang paling disukai itu berat. Dan itu adalah dasar dari sebuah  penghambaan tertinggi. Kita kecewa karena kita berharap, kita kehilangan karena kita merasa memiliki, kita semua merasa ada padahal yang ada hanya Dia.

Adung, 21 Agustus 2018