oleh : Hamid Muzaki

Wira'i, wara', weruk, arok.. Terlepas dari penafsiran tentang asal usul namanya, Warok merupakan status terhormat bagi masyarakat Ponorogo. 

Selama ini, warok sering diidentikkan dengan orang yang jago bertarung dan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Itu tidak salah, namun seorang warok yang telah mencapai puncak kesejatiannya, dia tidak lagi menonjolkan kesaktian lahiriah-nya, tapi lebih kepada olah batiniah. Karena orang jawa meyakini bahwa "sak jadug-jaduge uwong, yaiku uwong kang paling sabar lan sumeleh atine (setinggi-tingginya kesaktian adalah kesabaran)". Namun kalau terpaksa harus bertarung, seorang warok tidak mengenal rasa takut, "jaya utawa pralaya (menang atau mati)", tak ada kata kalah

Terdapat kemiripan antara wara’ dalam arti mistik islam dengan warok Ponorogo, jika dalam literatur mistik islam wara’ merupakan sikap terpuji disamping taubat, zuhud, tawakal, ridho, maka warok dalam istilah budaya Ponorogo adalah sebuah nama yang sekaligus simbol dari kelas dan status sosial yang tinggi di kalangan masyarakat. 

Untuk mempertahankan daya mistik di kalangan warok Ponorogo mereka melakukan perilaku ritual yaitu dimulai dengan penyucian diri, yaitu meliputi tiga hal yaitu kesucian suara, kesucian tenaga dan kesucian rasa. Selain melakukan tiga aktivitas tersebut seorang warok juga harus melakukan tirakat mengurangi makan untuk menyucikan wujud, mengurangi tidur untuk menyucikan rasa, mencegah syahwat untuk menyucikan daya kekuatan. 

Tahap berikutnya adalah berpuasa, ada sembilan puasa yang dilakukan yaitu puasa ngrowot, puasa ngidang, puasa mendhem, puasa pati geni, puasa mutih, puasa ngalong, puasa ngasrep, puasa ngepel dan puasa ngebleng. Untuk melengkapi perilaku warok maka harus pula meninggalkan pantangan-pantangan yang harus dihindari adalah molimo ditambah dua macam sehingga ada tujuh macam pantangan yaitu maling, madat, main, minum, madon, selain molimo diatas ditambah dua macam yaitu mateni dan madani.

Kriteria seseorang yang berstatus sebagai seorang warok dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, warok memiliki tipologi dan profil, berpakaian khas Ponorogo (Penadon) dengan warna khas baju hitam celana hitam, beserta atribut-atribut sebagai pelengkapnya. warok mempunyai wibawa, disegani dan dihormati oleh masyarakat. Selain itu warok juga sebagai pemimpin sekaligus pemain barongan yang mengerti arti hidup dan kehidupan. Dilihat dari tataran ilmu, warok adalah figur yang kebak ilmu, artinya menguasai ilmu baik lahir maupun batin. Selain itu, warok juga memiliki ilmu kesaktian dan ilmu kekebalan badan. Kedua, jalan (lelaku) yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai warok terlebih dahulu harus bisa memenuhi 9 (sembilan) syarat pokok, yaitu: berhati bersih dan berpikir positif, sopan santun, jujur, tidak berkata kotor dan berhati-hati, mengurangi keinginan nafsu, berjiwa perwira, adil, bijaksana dan tidak membeda-bedakan, suka menolong tanpa pamrih, sabar, tidak sombong.

Di jaman modern seperti sekarang, "laku" untuk menjadi seorang warok tentu tidak harus seperti warok pada jaman dahulu. Karena tantangan jaman telah berubah. Maka siapa saja yang memiliki jiwa dan mental ksatria, dia adalah warok.

pic : caknun.com

Redaksi
Author: Redaksi
Redaktur penulisan website resmi majelis masyarakat maiyah Waro' Kaprawiran