Mapak berasal dari Bahasa Jawa yang dalam Bahasa Indonesia bisa disamakan dengan Menjemput. Orang-orang desa saya khususnya jamaah masjid sekitar rumah sering menyebut amalan pada malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadhan dengan Mapak lan Ndedepi Lailatul Qodar. Karena sudah kita ketahui bersama bahwa datangnya Lailatul Qodar tidak ada yang tahu persis, Allah S.W.T hanya memberikan tanda-tanda yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Qodar dan beberapa Hadist Nabi Muhammad S.A.W. Saya tidak akan membahasa banyak tentang tanda-tanda datangnya Lailatul Qodar, tapi lebih kepada, kenapa orang-orang menyebutan amalan pada malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadhan itu dengan Mapak lan Ndedepi Lailatul Qodar, salah satunya bisa karena tidak adanya yang mengetahui kepastian datangnya Lailatul Qodar selain Allah S.W.T, bisa juga karena sebenarnya Lailatul Qodar bisa datang kapan saja dan dimana saja selama bulan Ramadhan, jadi kitalah yang harus menjemputnya sendiri-sendiri sehingga datangnya Lailatul Qodar bisa berbeda-berbeda hari dan waktunya di dalam bulan Ramadhan.


Baca selengkapnya


oleh : Hamid Muzaki

Wira'i, wara', weruk, arok.. Terlepas dari penafsiran tentang asal usul namanya, Warok merupakan status terhormat bagi masyarakat Ponorogo. 

Selama ini, warok sering diidentikkan dengan orang yang jago bertarung dan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Itu tidak salah, namun seorang warok yang telah mencapai puncak kesejatiannya, dia tidak lagi menonjolkan kesaktian lahiriah-nya, tapi lebih kepada olah batiniah. Karena orang jawa meyakini bahwa "sak jadug-jaduge uwong, yaiku uwong kang paling sabar lan sumeleh atine (setinggi-tingginya kesaktian adalah kesabaran)". Namun kalau terpaksa harus bertarung, seorang warok tidak mengenal rasa takut, "jaya utawa pralaya (menang atau mati)", tak ada kata kalah

Terdapat kemiripan antara wara’ dalam arti mistik islam dengan warok Ponorogo, jika dalam literatur mistik islam wara’ merupakan sikap terpuji disamping taubat, zuhud, tawakal, ridho, maka warok dalam istilah budaya Ponorogo adalah sebuah nama yang sekaligus simbol dari kelas dan status sosial yang tinggi di kalangan masyarakat. 


Baca selengkapnya


Oleh : Agung Satria

(jangan dibaca kalau kalian bukan orang Indonesia)

Mengajari tanpa menggurui, Meluruskan tanpa menyalahkan. Masih terngiangkah dibenak kita tentang beberapa permainan sederhana yang makna dan filosofinya tidak sesederhana apa yang tampak dimata. Seperti Gobak Sodor, siapa yang masih menemui permainan ini di Sekolah Dasar? atau di lingkungan kalian? Masih adakah?

Banyak nilai yang terkandung dalam permainan Gobak Sodor ini. Nilai yang berhubungan dengan diri sendiri dalam permainan ini melatih anak untuk berbuat jujur, yaitu Jika berada dalam kelompok yang mentas mengakui jika tersentuh lawan atau melewati batas mati. Dan jika berada dalam kelompok jaga garis, tidak berbuat curang dengan keluar dari garis penjagaan bertanggungjawab dengan melakukan tugas jaga garis dengan baik sesuai perannya masing-masing, sebagai anggota kelompok yang menjaga garis horizontal ataupun jaga garis vertikalbergaya hidup sehat, disiplin anak-anak mematuhi ketentuan dan peraturan dalam permainan gobak sodor terdapat nilai kerja keras, anak-anak berusaha keras menerobos garis-garis yang dijaga lawan untuk mendapatkan nilai dan kemenangan. Kerja keras ditunjukkan kelompok yang sedang jaga garis dengan berusaha mengejar anggota kelompok yang sedang mentas untuk menyentuhnya agar keadaan menjadi berbalik.


Baca selengkapnya


64 Tahun Maulana Muhammad Ainun Nadjib #64TahunCakNun

Hari ini, tepat 64 tahun yang lalu Muhammad Ainun Nadjib dilahirkan, yang kemudian lebih banyak dikenal dengan sebutan Emha, Emha Ainun Nadjib. Beliau dikenal sebagai seniman, budayawan, penulis esai, opini, puisi, teater, lagu dan sebagainya. Langsung saja pada intinya, sebagai kado untuk beliau yang hari ini ulang tahun, saya langsung teringat Album Kado Muhammad (Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng) tahun 1999. Saya yakin Album itu diberi nama Kado Muhammad karena beliau (Emha Ainun Nadjib) penggemar atau fans berat Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Sebagai Setoran, Persembahan, Kado atau Hadiah beliau kepada junjungannya, satu-satunya manusia yang bisa diandalkan dihadapan Allah yaitu Nabi Muhammad S.A.W, yang oleh Allah diberi Hak Prerogatif yaitu hak istimewa memberi syafaat kepada umatnya. Dalam beberapa acara Maiyahan, Emha Ainun Nadjid yang sekarang sering disebut Cak Nun atau bahkan dipanggil Mbah Nun oleh Jamaah Maiyah yang masih muda atau generasi millennial kelahiran 2000an keatas. Cak Nun mengungkapkan “Kalian itu masih beruntung idolanya adalah Artis, Actor, Penyanyi, Band atau Presiden, masih sangat mungkin dan mudah untuk menemuai, saya ini hanya punya satu tokoh idola, itu pun sangat sulit untuk bisa menemuinya, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W.” Menurut saya itu salah satu yang menjadi landasan kuat, kenapa Album kaset tersebut diberi nama Kado Muhammad, sebagai ungkapan rasa rindu, cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Menurut Gus Sabrang “karena bukan cinta yang menyebabkan rindu, tapi rasa rindulah yang menyebabkan rasa cinta itu”.


Baca selengkapnya


Muhammad Nur Mustakim

Jannatul Maiyah. Asal dari Jember. Mahasiswa di Ponorogo.

Dalam menjalankan tugas, amanat, kewajiban, anjuran, atau apapun namanya yang diberikan Tuhan kepada kita, seringkali ditemukan kejadian-kejadian yang tak disangka-sangka kejadiaannya, tak diinginkan kedatangannya, tak diduga aplikasinya. Namun sudah dapat dipastikan dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa itu semua merupakan kerjaanNya Tuhan, kita bisa meyakini itu karena memang sudah tercantum bahwa Tuha itu Fa’alun lima yurid.

Di zaman yang banyak sekali kita temukan “lawakan, kebodohan, dan tipudaya”, jika kita mau melihat dengan penglihatan lahir batin yang jernih, sangat jelas ketiga kerusakan itu memang disebabkan oleh penyalahgunaan jembatan yang diberikan Tuhan kepada kita. Jembatan yang seharusnya menjadi alat komunikasi yang baik antara kita dengan Tuhan, apalagi kalau bukan Iman. 


Baca selengkapnya